Laporan Gagal, Terbitlah Puisi yang Sok Arogan



Beberapa kali, laporan saya gagal. Salah satu laporan saya yang gagal adalah ketika mencari tahu kenapa saluran air di gedung E mati. Menurut salah satu petugas yang tidak ingin disebutkan namanya, air mati karena ada saluran yang rusak dan masih dibiarkan. Sudah tiga hari tidak mendapatkan penanganan. Kemudian, setelah menjelaskan perkara air yang mati, beliau menceritakan pekerjaannya. 

“Mbak, akhir-akhir ini saya sedang merasa diisolasi,” ujarnya.

Mendengar itu saya tertegun, apa maksudnya? Diisolasi? Kemudian beliau menjelaskan, menurutnya, semula pekerjaan beliau tidak begitu banyak dan berat. Tetapi, mendadak beliau dipindahkan ke gedung yang lebih luas dan bertugas sendirian. Dengan saluran air yang rusak membuat tugasnya berlipat-lipat.

“Saya dipindah ke sini, Mbak. Tanpa keterangan yang jelas. Tiba-tiba dan sendirian,” ungkapnya sembari menggeserkan pembersih lantai yang sedang beliau pegang.

Setelah mendengar cerita beliau, saya tidak mendapat informasi yang lengkap. Pasalnya, beliau tidak cukup terbuka untuk menjawab pertanyaan saya. Setelah itu, saya menyusuri gedung E, mencari informasi apakah mahasiswa tahu saluran air di gedung E itu rusak. Dan meminta tanggapan mereka.

Sayangnya, lima mahasiswa pertama yang mau menjawab pertanyaan saya, mengaku tidak tahu. Bahkan, malah bertanya balik kepada saya. Di situ saya ingin tertawa, sembari memencet tombol merah di gawai untuk menghentikan rekamannya. Kemudian, ketika saya menemukan mahasiswa ke lima, saya memberanikan diri untuk memburunya tidak hanya dengan tanya, tetapi juga tatapan murka,  “loh, abang ini selama tiga hari tidak ke toilet?”

Mendengar itu, mahasiswa yang saya ketahui adalah kakak tingkat, mengelus rambutnya yang cepak. Karena tidak mendapat jawab, akhirnya saya bertanya kembali, “atau abang ini ke toilet cuma ngaca, doang?”.

Kemudian, kakak tingkat saya mengiyakan tanya saya dengan malu-malu. Tetapi, karena beberapa alasan yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Saya memutuskan untuk mengakhiri pencarian saya. Begitulah, saat saya memperhatikan lingkungan (perpustakaan) di sekitar kampus yang gaduh. Dan  tidak becus membuat laporan yang utuh. Saya melahirkan sebuah puisi enggak jelas dengan judul Film yang Bisu.

Film yang Bisu

Di waktu yang singkat
Rasanya aku ingin menyimpulkan cepat
Benarkah dugaanku salah atau sudah tepat
Atau aku hanyalah kecil yang keparat

Tepat di waktu yang singkat
Aku lihat kegaduhan secepat kilat
Di serambi perpustakaan yang
Buku-bukunya dianggap hilang
Tidak bisa buat mahasiswa kenyang

Di seberang perpustakaan yang lain
Aku menyaksikan berpasang-pasang tangan
Siap menyulut rokok di ujung mulut

Katanya dalam kegaduhan,
Asap yang mengudara adalah
Uap paling sedap supaya nyanyian
Yang melenggang di antara
Puntung-puntung lipatan kertas
Makin keras dan bernada cadas

Kemudian dalam perpustakaan yang megah itu
Jendela terbuka saat pendingin ruang menyala
Di antara dinginnya
Orang-orang yang menonton
Wajahnya sendiri di film yang bisu.

Purwokerto, 9 April 2018.

Sekarang timbul pertanyaan, kenapa saluran air yang mati kok puisinya jadi soal perpustakaan? Yaaa, soalnya waktu saya menyusuri gedung E, saya putar tiga kali perpustakaan (dulu). Haduuu, kurang kerjaan. Hehe



0 komentar