Apresiasi
menjadi hal yang genting dan penting dalam dunia sastra dan seni. Orang-orang
membuat puisi agar suaranya didengar melalui diksi. Orang-orang membuat naskah
cerita lalu dijadikan sebuah tontonan di panggung teater. Orang-orang membuat
novel agar kisahnya diakui dan dibaca berkali-kali.
Namun, bagaimana
ketika suara-suara penyair tidak dengar? Bagaimana ketika panggung teater
dibiarkan kosong? Bagaimana ketika novelis dibekukan dengan dalih-dalih yang
dianggap lumrah?
Belakangan,
kita dihebohkan dengan penolakan penulis novel Cantik itu Luka, Eka Kurniawan terhadap apresiasi yang
diberikan oleh Kemendikbud. Ia menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni
Tradisi 2019. Eka menolak bukan tanpa alasan, ia menganggap sastra dan seni di
Indonesia kadung menjadi anak tiri.
Tidak
hanya itu, Eka juga mempertanyakan keseriuasan negara terhadap dunia sastra dan
seni. Seserius apa? Sebab, saat staf Kemendikbud menghubunginya, ia dijanjikan
mendapat uang sebesar Rp 50 juta. Padahal, peraih medali emas di
Asian Games 2019 mendapatkan Rp 1,5 miliar dan peraih perunggu memperoleh Rp
250 juta. Hal itu membuat Eka heran, kenapa ada ketimpangan yang terlalu
jauh dan membuat sungkan.
Di
sisi lain, persoalan penyair Wiji Tukul juga belum mendapat titik terang; jasadnya
belum ditemukan, kematiannya belum terdengar. Tetapi, aparat malah sibuk
merazia buku-buku yang dianggap kiri. Hmm… hehe
Purbalingga
Edu Week: Panggung Apresiasi di Purbalingga yang Apik
Aku
pikir, setiap manusia cenderung ingin mendapat apresiasi. Baik dalam bentuk
pengakuan maupun panggung. Di Purbalingga, pada 2016 lalu, kita mengenal
Purbalingga Edu Week (PEW) melalui DPD KNPI Kabupaten Purbalingga sebagai bentuk
keresahan terhadap dunia pendidikan. Tidak hanya itu, mereka juga menyediakan
panggung apresiasi. Sebab, saat itu, novel pertamaku yang bertajuk Sejingga
Jilbab Senja dilaunching di situ.
PEW
yang didalangi Bang Dimas Agung Ramadhan merupakan rangkaian acara yang dikemas
dengan apik. Selama satu pekan, rentetan acara yang menarik digelar di Kedai
Kebun. Kenapa aku bilang menarik dan apik? Karena dalam satu pekan ada bazaar
buku, workshop jurnalistik, talkshow, pemutaran film, donor darah, dan banyak
yang lainnya.
Tetapi,
yang paling penting di situ adalah apresiasi yang diberikan kepadaku. Lantaran,
hal itu cukup berpengaruh dalam mengambil keputusan di kemudian hari. Sehingga, aku tetap menulis, meski
dalam bentuk lain. Kemudian, kalau memang benar Bang Dimas tidak serius memberi
apresiasi, ia pasti tidak akan memberi panggung kepada novelis yang masih bocah
macam aku.
Bahkan,
sampai sekarang, Bang Dimas juga masih konsisten merawat semangat anak muda
yang sedang berkarya. Ia merawat semangat anak muda yang mempunyai cita. Baik
dalam bidang seni, bidang kuliner, bidang wisata dan bidang lainnya. Bang Dimas
memberi ruang untuk mereka bicara proses kreatifnya di Collab Talks.
Dari
situ, kita bisa menyaksikan betapa seriusnya Bang Dimas dan kawan-kawan untuk
merawat bibit yang masih bingung. Sebab, di luar sana banyak yang sudah jatuh
bangun berkarya, tapi nihil apresiasi. Banyak juga di luar sana yang ingin
kekasihnya kembali, tetapi tak kunjung terwujud lantaran kadung bertransaksi
dengan oligarki. Hehe
Terakhir,
apresiasi mustinya diberikan kepada mereka yang berkarya. Diberikan secara
cuma-cuma, dengan penilaian yang setara. Jangan biarkan pekerja seni merasa
dianaktirikan, jangan biarkan anak muda bekerja sendirian. Kalau Eka Kurniawan merasa
negara sudah menganaktirikan sastra dan seni, PEW bisa dikatakan sudah merawat
semangat yang membara dari anak tiri macam aku.

0 komentar