Percakapan Laki-laki di Pematang Sawah

Sumber ilustrasi: mfdli_


: Muhamad Fadli A dan kawannya.

/1/
Siang ini aku memutuskan menikmati angin segar
Bersama seorang kawan setia yang tetap tertawa
Meski hidup seringkali tidak adil bagi rakyat kecil

/2/
Kami duduk di pematang sawah dengan setumpuk
Masalah yang subur lantaran rajin dipupuk dan
Melakukan percakapan yang cukup membuatku
Tidak lesu sebab nasib malang sama-sama menyerang

Susah payah Bapakku mencangkul sawah. Tapi, 
tetap saja aku tidak pandai mengerti maunya birokrasi.”

Sedari tadi angin memang tidak henti-hentinya
Menggoyangkan padi yang hampir menguning
Dan rambutku yang agak panjang sebab sudah
Hampir satu tahun tidak tersentuh nasihat genting

Ibuku bolak-balik berkebun. Tapi, hasilnya
habis untuk membayar isi kepala orang lain.

/3/
Dari jauh para petani bergegas untuk pulang
Ia membereskan rantang yang berantakan
Dan menenteng caping lantaran terik matahari
Sudah tidak menyengat kepala dan tubuhnya

Sedang kami masih asik menertawai penolakan
Beragam proposal usaha yang masuk dengan mandiri
Ke vendor yang orangnya tidak kami kenali

Memang tidak baik membuat usaha
tanpa orang dalam.”

Saat kami berhenti tertawa lalu mulai berpikir tentang
Masa depan, wajah bayi, dan anak cucu kelak nanti
Seorang petani berjalan menuju kami sembari memarahi
Anaknya yang pulang dari kota untuk melamar nasib baik

Lek, yen awakmu ditolak opo dikecewakke, 
iku tandane ono salah siji kang awakmu kudu dibenerke.”

Kemudian aku pulang bersama mereka dan 
Menyaksikan kawanku menelan serapah dari mulut Bapaknya.

Purwokerto, April 2020.




0 komentar