Berulang kali, saya hapus kalimat pembuka narasi ini. Saya mencari kalimat yang tepat, untuk menggambarkan politik kampus saya sukar dijelaskan. Lantaran begitu rancu dan ambigu. Tetapi, ah, barangkali sama saja bukan? Selama apa saya mencari kalimat pembuka narasi ini. Politik tetaplah politik. Di mana kadang menggelitik, mengundang intrik, maupun kritik. Tetapi, di situlah semua yang ‘berperan’ tumbuh menjadi lebih dewasa dan matang.
Siang itu, saya bersua dengan Warek III, Bapak Supriyanto. Di sana saya menanyakan sesuatu. Salah satunya dinamika politik kampus. Menurutnya, politik kampus memang dibuat oleh sistem. Setiap sistem memang mempunyai plus dan minus. Sehingga, tidak menutup kemungkinan ketika kongres akan terjadi perubahan. Namun, banyak pihak yang menyayangkan terkait sistem pencoblosan pemilihan Dema dan LK. Lantaran tidak one man one vote. Hal itu mengundang ketidakadilan. Sekalipun sudah melalui proses musyawarah dalam kelas.
Setelah perhitungan suara di Audit Utama IAIN Purwokerto, salah satu calon ketua DEMA FEBI Bang Yudha Pratama memekikkan suara, “Demokrasi tidak akan bisa diwujudkan dengan sepenuh-penuhnya. Ketika tidak ada perwakilan satu orang memilih satu orang!!!”
Setelah perhitungan suara di Audit Utama IAIN Purwokerto, salah satu calon ketua DEMA FEBI Bang Yudha Pratama memekikkan suara, “Demokrasi tidak akan bisa diwujudkan dengan sepenuh-penuhnya. Ketika tidak ada perwakilan satu orang memilih satu orang!!!”
Tadi malam, di tengah-tengah tim independennya. Saya menyaksikan mata abang saya berkaca-kaca. Ia tidak menangis atau sengaja pulang lebih awal. Meskipun sudah dinyatakan kalah dalam kontestasi politik kampus. Di sana, ia tetap berdiri dengan militansi yang tinggi. Lalu dengan suara yang lantang, ia mengatakan kepada timnya, bahwa kemenangan bukanlah mereka yang berhasil melawan musuh. Tetapi, adalah mereka yang mau dan berhasil memperjuangkan nilai.
Ah, saya pikir, sebagai adik yang mengerti betul proses abangnya. Bang Yudha mencalonkan diri menjadi Ketua DEMA FEBI, bukan hanya sekadar untuk mendapatkan ‘kekuasaan’. Tetapi serius merapihkan sistem di kampus ini. Sebab, saat saya diajak ngopi dengan dua temannya dari Smega. Bang Yudha membawa satu binder yang isinya program semua. Saya membaca seluruhnya. Tidak ada yang main-main di dalamnya.
Tidak hanya itu, selama tiga bulan Bang Yudha bersama timnya mempersiapkan segalanya. Mereka harus mencari lima ratus lebih KTM di FEBI. Tidak mudah mendapatkan ratusan KTM itu. Sebab, dari situ timbulah isu dilarang membawa KTM ke kampus. Saya pikir, politik kampus menjadi tidak fair ketika pihak lawan menjadi sangat tendensius. Kenapa tidak saling beradu gagasan? Melalui tulisan, lisan, atau bolehlah dengan visual. Agar mereka para pemilih bisa tahu kualitas masing-masing pasangan calon (paslon).
Mendekati Pemiluwa, ketika sosialisasi dari PPM dan abang saya banyak bicara di forum. Mereka yang ikut berkontestasi menjadikannya sebagai bahan cerita jenaka. Lalu dibawa ketika kampanye di kampus kita tercinta. Sehingga calon independen semakin dibuat asing. Perlahan dibuat tersingkir. Dengan cara yang tidak sebanding. Padahal, seharusnya, politik bukan siapa dia dari mana. Bukan bendera apa yang dikibarkan anda.
Benar, Bang Yudha bersama pasangannya mendapat 17 suara. Sedangkan lawannya mendapat 18 suara. Ada satu surat suara yang tidak sah. Sebab dicoblos keduanya. Ah, jangan-jangan satu kelas memang bingung. Lantaran keduanya sama kuat dalam adu gagasan. Sehingga, dipilihlah keduanya. Supaya adil dan merata. Atau, jangan-jangan yang mencoblos adalah bagian dari tim sukses salah satu paslon. Sehingga, sekalipun musyawarah kelas menghasilkan mufakat. Ia mendadak menjadi bimbang dan linglung. Tetapi, apapun motifnya. Beginilah dinamika politik kampus kita. Penuh drama dan sandiwara.
8 komentar
Abadi perjuangan !!!
BalasHapusAbadi hehe
HapusSelamat berjuang,merubah sesuatu yang baik tidak melulu punya jabatan. Good job bung!!
BalasHapusSelamat hehe
HapusBahkan bagiku tak cukup kata untuk mengungkap perjalanan panjang dari perjuangannya..
BalasHapusBeliau Memang Luarbiasa!✊
Alhamdulillah hehe
BalasHapusBang Yudha juara di hati saya! Hahaha
BalasHapusBang Yudha mantap
BalasHapus