Semenjak media baru terang-terangan
menunjukan senjata utamanya, yang dekat dengan kita tidak hanya kematian.
Tetapi juga kebohongan (hoax). Media baru yang sekarang digandrungi oleh
beragam generasi adalah instagram. Lantaran instagram dianggap
mempunyai beragam fitur yang menarik.
Sehingga, berbondong-bondong media membuat akun instagram.
Seperti kompascom, detikcom, kumparancom, cnnindonesia, tempodotco, dan
lainnya. Di sana berisi informasi singkat yang diharapkan para follower
bisa mengunjungi websitenya. Baik informasi yang mengandung serius maupun tidak
serius. Kunci dalam menyebarkan informasi adalah kecepatan. Siapa cepat, ia
dapat pengunjung yang banyak.
Rahardjo (dalam Junaedi dkk, 2011: 6),
mengungkapkan, “keberadaan media baru tidak bisa dilepaskan dari perkembangan
teknologi dan komunikasi yang begitu pesat”. Sesuai dengan fleksibilitas dan
kemandirian yang dimiliki, media baru dalam waktu singkat menjadi andalan
komunikasi yang efisien dan progresif menyuarakan berbagai hal yang ada di
seklilingnya (Eko: 2011).
Namun, tidak dipungkiri kalau media
baru juga menjadi salah satu ladang yang membuat berita bohong tumbuh subur dan
gemuk. Seperti kasus Ratna Sarumpaet, di instagram beredar foto Ratna yang
babak-belur, pada Senin (01/10). Dengan caption penjelasan kronologi
penganiayaan.
Dari masing-masing follower
akun instagram tersebut mempunyai beragam latar belakang. Bagi follower
yang mempunyai skeptis tinggi, mereka akan mengecek ulang dan membandingkan
dengan media lain. Sedangkan, follower yang mengutamakan naluri, akan
langsung membagikan berita tersebut dengan dalih kasihan.
Indikator jenis follower
tersebut tidak bisa diketahui dari latar belakang pendidikan. Lantaran,
belakangan banyak juga akademisi yang ditangkap polisi karena menyebar berita
bohong. Sehingga aparat kemanan bekerja dua kali, mengawasi dunia nyata juga
dunia maya.
Kemudian, pada Rabu (03/10) Ratna melakukan konferensi
pers di Jakarta Timur. Ia mengaku berbohong. Ia sama sekali tidak dipukuli, lebam di
wajahnya terjadi karena pasca operasi sedot lemak, barangkali agar terlihat
lebih molek. Sontak, pengakuan Ratna membuat media buru-buru meluncurkan berita
baru. Dengan tajuk, ”Ratna Sarumpaet: Saya Pencipta Hoax Terbaik”.
Jika menengok ke belakang, yang membuat berita bohong
tersebut bisa dikonsumsi oleh publik adalah media. Sehingga menimbulkan
pertanyaan, kalau Ratna bukan korban (penganiayaan), siapakah yang menjadi
korban (penyebaran hoax) dalam hal ini? Masyarakat yang mentah-mentah menelan
informasi atau media yang luput dari verifikasi dan konfirmasi?
Dalam konferensi pers, Ratna meminta maaf karena sudah
membuat kegaduhan. Tetapi media tidak demikian. Mereka seolah tidak merasa
bersalah malah memberitakan kesalahan Ratna dengan lantang. Terkait hal ini,
membuat saya ingat istilah yang menggelitik, yang saya temukan di buku Cak Rus
bertajuk “Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan”.
Begini dalam buku tersebut, Menurut Daru: the
clicking monkeys adalah julukan untuk orang yang dengan riang gembira
mengklik telepon selulernya untuk menyebarluaskan hoax ke sana-kemari,
me-retweet, atau mem-posting ulang di media sosial. Mereka
seperti kumpulan monyet riuh saling melempar buah busuk di hutan. Agar tidak
ketahuan lugu, biasanya mereka menambahkan kata seperti: “Apa iya benar info
ini?” atau “Saya hanya retweet lhoo.”
Lalu lanjut cak Rus: “Saya sepakat dengan Daru, tapi
di sini, mereka yang disebut sebagai the clicking monkeys celakanya
justru banyak berasal dari kalangan wartawan. Mereka itulah wartawan pemalas,
yang atas nama roda industri pemberitaan dan kebebasan pers, memungut informasi
apa saja tanpa perlu mengukurnya dengan standar dan etika jurnalistik lalu
mengemasnya menjadi berita dan menyebarkannya tanpa malu.”
Selain wartawan pemalas, ada juga yang seringkali masuk pada the clicking monkey, mereka adalah politisi pemalas. Hehe

1 komentar
Mantap. Lanjutkan
BalasHapus