Aku
jarang beli buku, baca juga iya. Masih malas-malasan gitu. Tapi bukunya Mbah
Tejo yang #Talijiwo ki
aneh. Pasalnya, aku sudah dimimpiin buku itu tiga kali. Pertama, aku nggendong
buku itu. Kedua, buku itu masuk ke tasku. Ketiga, buku itu aku ajak swafoto. Edaan, cuk.
Tapi
akhirnya aku bawa pulang buku yang, sudah tiga kali nangkring di alam mimpi.
Aku tidak tahu kenapa sampai seperti itu. Tetapi, ya, kadang aku memang suka
berlebihan kalau menginginkan sesuatu. Selalu menggebu.
Buku
Mbah Tejo yang ke sekian ini macem gado-gado cabe seratus, pedes banget, cuk. Kisah
yang akhir-akhir ini mencuat dinegeri kita, dikemas oleh Mbah Tejo dengan
tampilan memukau dan bikin kelabakan pengin cepet-cepet minum air lalu
disemburin ke tanah. La yah soalnya, bukunya makjleb banget, sih.
Sastro-Jendro
yang menjadi tokoh dalam buku #Talijiwo berubah-ubah. Kadang Sastro seorang
perempuang, kadang Jendro seorang laki-laki. Tapi barangkali benar, jangan dipikirkan
siapa yang berbicara, dengarkanlah apa yang disampaikannya. Atau, kalau sebuah
buku, berarti bacalah apa yang dituliskannya. Heuheu
Selain
itu, di buku #Talijiwo juga bertebaran quotes yang bikin meleleh abis. Udah
kayak es krim dipanasin satu tahun. Mencair, cuk. Seluruhnya aku suka, tapi
hanya beberapa kutipan favorit yang aku tulis. Berikut kutipannya:
“Sepi itu pesta jutaan kata, kekasih, dan
kembang api dari cinta yang tak bersambut, kekasih ... “ hlm. 1
“Ooo, keganjilan ini, kekasih, aneh
sekali ... Aneh sekali bilangan ganjil. Dibilang genap tak kau tangisi,
diganjal tawa masih kuburan ... “ hlm. 19
“Mengenalmu adalah kebangkitan dalam
hidupku, kekasih, walau mengenangmu selalu membuatku bersedih ... “ hlm. 29
“Bangsa yang harga tasnya mulai lebih
mahal daripada harga perempuannya adalah bangsa yang menjelang akhir zaman ...
“ hlm. 65
“Debat itu soal kata. Kerja soal
keringat. Mungkin debat ada sejak manusia mulai menuhankan kata-kata. Bahkan
menyatakan cinta dalam perbuatan saja tak cukup. Kau harus masih mengatakannya
... ” Hlm. 71
“Banyak orang berjasa. Tapi tak semuanya
beruntung sedang berada tepat di depan hidung kita, kekasih ... ” Hlm. 127
“Hanya penantian yang tak mengenal
kadaluwarsa. Dan yang paling sanggup menerjemahkan cinta hanyalah penantian,
kekasih ... ” Hlm. 167
Setelah
aku tulis secara runtut kutipan favoritku, eh, kok ternyata halamannya ganjil
semua ya. Barangkali memang benar kekasih, aku menikmati segenap perasaanku yang ganjil (untukmu). Heuheu

0 komentar