Selagi
masih ada kaum kapitalis yang mau memodali produksi kosmetik, dandan masih
menjadi perkara yang gampang. Lantaran bahan persediaan mempercantik wajah,
masih mudah didapatkan. Apalagi, ditambah dengan media yang mengiklankan produk
kecantikan di sela-sela tayangan sinetron atau FTV yang biasanya ditonton
perempuan.
Dalam
iklan produk kecantikan, perempuan yang biasa “digunakan” adalah sosok yang
putih, tinggi semampai, wajah mulus, hidung mancung, dan lain-lain. Kalau
dianalogikan dengan bubur. Perempuan yang disebutkan tadi masuk pada jajaran yang
mudah ditelan, saking lembutnya.
Tetapi,
setelah saya mendapatkan kenyataan yang pahit. Saya menduga, sinetron dan
antek-anteknya juga ditonton oleh laki-laki. Buktinya, beberapa teman laki-laki
yang terbiasa saya ladenin bacotannya, cenderung menggiring saya untuk menjadi
perempuan yang sama persis di iklan kosmetik tadi. Seperti:
“Ummm,
kok gak dandan sih?”
“Ummm,
coba kamu pake bedak war*ah.”
“Ummm,
kamu coba deh pakai gincu kaya dia.”
“Ummm,
pake orif*ame, yuk.”
Kalau
diserbu dengan beragam kalimat seperti itu, saya biasanya jawab, “kamu kebanyakan
nonton iklan sabun.” Tapi, kalau saya enggak ladenin, biasanya mereka bakal
lebih ngelunjak. Saya khawatirnya mereka bakal bawain katalog kosmetik dan
ngambil paksa jatah buat beli es krim di kantong ajaib saya. Kan nggaaa lucu
ya. :(
Perempuan
sebenarnya tidak sebatas mengenai produk kosmetik dan antek-anteknya. Membaca perempuan
di buku “Perempuan dalam Khasanah
Pewayangan” karya Sri Wintala Achmad, perempuan dibagi menjadi empat
tingkatan yakni wadon, estri, wanita
dan putri.
Masing-masing
tingkatan itu mempunyai filosofi sendiri. Bukan berarti saya mendewakan sebuah
kasta, tetapi tingkatan dalam tatanan Jawa ini bagus juga untuk kita ketahui.
Wadon
berasal dari bahasa Kawi ‘wadu’ yang memiliki
makna harfiah abdi atau kawula. Bisa
dikatakan perempuan di sini menjadi pengabdi dalam dunia yang ia cintai. Dalam
buku tadi, diceritakan bahwa perempuan yang mengabdi tidak boleh menentang
suaminya. Saya pikir hal itu tidak relevan, karena cinta sejatinya ada
demokrasi yang terselip di dalamnya.
Estri berasal dari bahwa Kawi “Estren” yang memiliki makna harfiah mendorong atau mendukung.
Perempuan boleh saja keras kepala, tapi tidak boleh tidak legowo ketika
pendapatnya tidak diterima. Dan, sayangnya, untuk berlaku menjadi perempuan
yang lapang dada, susah-susah gampang juga. Hehe
Wanita
merupakan bentukan dari dua kata yakni wani
dan tata. Perempuan di sini harus
berani mengatur dan berani diatur. Berarti bisa dikatakan perempuan harus
berani nembak dan berani menolak. Eh, bukan, maksudnya, berani untuk menjadi
pemimpin dan berani menjadi yang dipimpin.
Terakhir,
Putri di sini adalah akronim putus tri
prakarwis (menguasai dalam tiga hal). Putri adalah tingkatan yang paling
tinggi. Perempuan dalam tingkat ini sudah menguasai tiga hal tadi, menjadi wadon, estri, dan wanita.
Setelah
saya renungkan dan baca sampai tujuh kali, dalam filosofi perempuan menurut masyarakat
Jawa tidak disarankan membeli produk kosmetik. Tetapi, tidak ada larangan juga
kalau menggunakannya. Selagi membeli produk kosmetiknya dengan uang yang halal
dan bukan hasil korupsi.
Sebab,
perempuan yang tidak dandan masih mulia dari perempuan yang suka dandan tapi
mendesak laki-lakinya untuk membeli ini itu sampai tidak sadar sudah
menghabiskan uang rakyat. Ah, bikin gak kuat, mylov.
Satu lagi, jangan salah milih produk kosmetik, alih-alih ingin cantik malah menggelitik. Heuheu

0 komentar