Perempuan dalam Kacamata Masyarakat Jawa


 
Ilustrasi: Pixabay
Selagi masih ada kaum kapitalis yang mau memodali produksi kosmetik, dandan masih menjadi perkara yang gampang. Lantaran bahan persediaan mempercantik wajah, masih mudah didapatkan. Apalagi, ditambah dengan media yang mengiklankan produk kecantikan di sela-sela tayangan sinetron atau FTV yang biasanya ditonton perempuan.

Dalam iklan produk kecantikan, perempuan yang biasa “digunakan” adalah sosok yang putih, tinggi semampai, wajah mulus, hidung mancung, dan lain-lain. Kalau dianalogikan dengan bubur. Perempuan yang disebutkan tadi masuk pada jajaran yang mudah ditelan, saking lembutnya.

Tetapi, setelah saya mendapatkan kenyataan yang pahit. Saya menduga, sinetron dan antek-anteknya juga ditonton oleh laki-laki. Buktinya, beberapa teman laki-laki yang terbiasa saya ladenin bacotannya, cenderung menggiring saya untuk menjadi perempuan yang sama persis di iklan kosmetik tadi. Seperti:

“Ummm, kok gak dandan sih?”
“Ummm, coba kamu pake bedak war*ah.”
“Ummm, kamu coba deh pakai gincu kaya dia.”
“Ummm, pake orif*ame, yuk.”

Kalau diserbu dengan beragam kalimat seperti itu, saya biasanya jawab, “kamu kebanyakan nonton iklan sabun.” Tapi, kalau saya enggak ladenin, biasanya mereka bakal lebih ngelunjak. Saya khawatirnya mereka bakal bawain katalog kosmetik dan ngambil paksa jatah buat beli es krim di kantong ajaib saya. Kan nggaaa lucu ya. :(

Perempuan sebenarnya tidak sebatas mengenai produk kosmetik dan antek-anteknya. Membaca perempuan di buku “Perempuan dalam Khasanah Pewayangan” karya Sri Wintala Achmad, perempuan dibagi menjadi empat tingkatan yakni wadon, estri, wanita dan putri.

Masing-masing tingkatan itu mempunyai filosofi sendiri. Bukan berarti saya mendewakan sebuah kasta, tetapi tingkatan dalam tatanan Jawa ini bagus juga untuk kita ketahui.

Wadon berasal dari bahasa Kawi ‘wadu’ yang memiliki makna harfiah abdi atau kawula. Bisa dikatakan perempuan di sini menjadi pengabdi dalam dunia yang ia cintai. Dalam buku tadi, diceritakan bahwa perempuan yang mengabdi tidak boleh menentang suaminya. Saya pikir hal itu tidak relevan, karena cinta sejatinya ada demokrasi yang terselip di dalamnya.

Estri berasal dari bahwa Kawi “Estren” yang memiliki makna harfiah mendorong atau mendukung. Perempuan boleh saja keras kepala, tapi tidak boleh tidak legowo ketika pendapatnya tidak diterima. Dan, sayangnya, untuk berlaku menjadi perempuan yang lapang dada, susah-susah gampang juga. Hehe

Wanita merupakan bentukan dari dua kata yakni wani dan tata. Perempuan di sini harus berani mengatur dan berani diatur. Berarti bisa dikatakan perempuan harus berani nembak dan berani menolak. Eh, bukan, maksudnya, berani untuk menjadi pemimpin dan berani menjadi yang dipimpin.

Terakhir, Putri di sini adalah akronim putus tri prakarwis (menguasai dalam tiga hal). Putri adalah tingkatan yang paling tinggi. Perempuan dalam tingkat ini sudah menguasai tiga hal tadi, menjadi wadon, estri, dan wanita.

Setelah saya renungkan dan baca sampai tujuh kali, dalam filosofi perempuan menurut masyarakat Jawa tidak disarankan membeli produk kosmetik. Tetapi, tidak ada larangan juga kalau menggunakannya. Selagi membeli produk kosmetiknya dengan uang yang halal dan bukan hasil korupsi.

Sebab, perempuan yang tidak dandan masih mulia dari perempuan yang suka dandan tapi mendesak laki-lakinya untuk membeli ini itu sampai tidak sadar sudah menghabiskan uang rakyat. Ah, bikin gak kuat, mylov.

Satu lagi, jangan salah milih produk kosmetik, alih-alih ingin cantik malah menggelitik. Heuheu

0 komentar