Sampai Kau Baca Tulisan Ini, Aku Masih di Ruanganmu
Oleh : Umi Uswatun
Hasanah.
![]() |
| [Ilustrasi : Google] |
Teruntukmu: laki-laki
yang masih terpikat pada sosok wanita yang mempunyai banyak kelebihan yang tidak
aku miliki. Lalu: maaf, kau yang masih memikat hati ini dan masih kutaruhkan
harapan-harapan serta janji yang sempat kau ucapkan. Pasalnya, roda memang
berputar. Aku lupa, bahwasanya aku mengendarai sepeda yang rodanya berputar.
Tapi aku lebih lupa lagi, rodanya masih berputar dan aku kehilangan kendali.
Sebelum ini, aku memang
baru menyadari. Betapa kau memilih sosok yang enggan banyak bicara namun pandai
memikat hati. Jika kubandingkan dengan apa yang kumiliki. Jauh. Jauh sekali.
Aku tidak suka berdiam diri, apalagi berbicara manis di hadapan orang-orang
yang berhasil memikat hati. Sayangnya lagi, aku tidak pandai memikat hati,
namun sukar keluar dari perangkap hati yang memikat.
Beberapa kali aku
terperangkap pada ruang pengap, namun mereka lupa, pintunya masih terbuka.
Maka, aku bisa dengan mudah keluar tanpa harus menjejaki setiap cahaya walau
sekecil apapun. Pun, aku dengan mudah berjalan santai tanpa mesti mencari
dinding untuk kuraba dan menjadi petunjuk jalan. Kali ini, pada ruang yang kau
sediakan, aku terlena.
Ruangmu begitu
menyejukkan dan aku enggan pergi. Entah aku yang berpura-pura tak melihat,
entah aku yang mencoba untuk menutup mata. Kau bawa sosok perempuan yang anggun
dan barangkali berharap aku dapat pergi tanpa mesti diusir. Aku tidak lagi
peka. Aku masih di situ meski mulai beranjak dari deretan kursi yang kau sediakan
untukku dulu. Betapa jika dipikir dengan logika yang sehat, ini posisi yang
menjijikan.
Aku bakal mengaku,
betapa aku sulit menulis isi hati perihal kehidupan sejati. Dan untukmu, banyak
tulisan yang mengendap serta rekaman asli yang sempat kukirimkan. Entah ini
umpan balik yang terlalu berlebihan, entah ini salah satu jenis spesies baru
perihal kebodohan. Sayangnya, setia memang tidak menggunakan logika. Perasaan
yang halus dan tulus bakal mengarahkannya pada puncak kesetiaan yang paling
tinggi.
Dan, kau menjadi
satu-satunya bagian yang ada di dalamnya sebelum ini dan sampai kini. Sampai
kau membaca tulisan ini, aku masih di ruangangmu, bersama wanita yang kau bawa.
Purbalingga, 29 Januari
2017.

0 komentar