Manusia
dikodratkan menjadi pemimpin untuk dirinya maupun orang lain. Dalam memutuskan
sebuah tindakan, barang tentu setiap manusia tidak jauh dengan sifat hakiki
yang dimilikinya, yakni kepribadian. Sifat itulah yang kemudian menjadi pembeda
antarmanusia. Menjadi karakter yang mempunyai ciri khas dalam melaksanakan
tugas memimpin sampai tuntas. Sama halnya dengan pemimpin di negeri ini,
masing-masing dari mereka mempunyai kepribadian yang bisa memengaruhi kebijakan.
Sebuah
tindakan yang dihasilkan dari kepribadian, akan diterima dengan beragam sudut
pandang. Di situlah komunikasi ikut andil menyeragamkan. Jika komunikator
menyampaikan pesan dengan jelas, pesan yang disampaikan kepada komunikan akan
diterima secara lugas. Sebaliknya, ketika komunikator dalam menyampaikan pesan
tidak jelas, komunikan akan menangkap pesan tersebut tidak maksimal atau bisa
terjadi intrik yang tidak disengaja.
Dalam
dunia per-politik-an, komunikasi menjadi hal yang sangat vital. Lantaran setiap
pergerakan salah satu unsur politik, yakni tokoh politik, jika ingin
memenangkan pertarungan harus bekerja keras meyakinkan masyarakat. Tokoh
politik yang menguasai media cenderung akan memenangkan pertarungan. Lantaran
mempunyai banyak lahan untuk membangun citra. Di Indonesia media elektronik
seperti televisi banyak yang digawangi oleh tokoh politik. Katakanlah, Surya
Paloh dari Partai Nasdem pemilik Metro TV, Hari Tanoesudibjo dari Partai Hanura
pemilik MNC Group, Aburizal Bakri dari Golkar pemilik TV one, dan yang lainnya.
Namun,
sejak Indonesia merdeka sampai kini masih marak isu radikalisme yang nampaknya
akan lebih mengancam citra diri di masyarakat Indonesia dan berimbas pada kursi
kepemimpinan yang sudah susah payah didapatkan. Lantaran, masih saja ada oknum
yang memanfaatkan isu tersebut untuk mencari celah kesalahan pemimpin.
Radikalisme sendiri diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan
perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau
drastis.[1]
Presiden
pertama kita, Soekarno, menanggapi isu radikalisme dengan kemampuan retorikanya
yang apik. Soekarno yang keturunan Jawa berhasil memikat masyarakat Indonesia
bahkan internasional dengan gaya pidatonya yang lantang dan meyakinkan. Dengan
repetisi menjadi ciri khasnya.
Pertengahan Januari 1966 pasca tragedi G30 SPKI, Soekarno menanggapi radikalisme dengan kemarahan. Soekarno merasa kepemimpinannya dikacaukan oleh banyak elemen. Kepribadian Soekarno yang tegas dan berani, membuatnya terang-terangan menolak untuk menumpas komunis di Indonesia. Lantaran, sejak Indonesia merdeka, Soekarno yang mengenalkan konsep NASAKOM (Nasional, Agama, Komunis).
Berikut
kutipan pidato Soekarno saat sidang kabinet di Istana Negara yang diberi judul
“Susunlah Barisanmu! Tunggu komando!”:
Tunggulah
komando dari saya. Tunggulah komando dari saya. Jangan bertindak liar. Tetapi,
susun, susun, susun, susun kau punya tenaga, kesatuan, barisanmu, susun! Susun,
berdiri di belakang Soekarno. Saya tidak mau didongkel dengan cara yang
demikian ini. Dengan cara gelap-gelapan. Dengan cara pamflet-pamflet gelap,
dengan gelap-gelapan yang lain. Demikian juga kepada KAMI saya berkata, saya
tidak senang dengan perbuatan-perbuatan ini![2]
Pada
pidato tersebut, Soekarno berulang kali melakukan repetisi. Bahkan, dalam satu
kalimat ada kata “susun” sebanyak lima kali. Dari segi penggunaan bahasa,
hematnya, komunikasi yang dilakukan oleh Soekarno tidak efektif. Repetisi untuk
keindahan memang bisa dinikmati, namun di beberapa kondisi akan menimbulkan
kebosanan bagi pendengarnya sendiri.
Sama
seperti pemimpin sebelumnya, pemimpin Indonesia kini, yakni Joko Widodo, yang
akrab disapa Jokowi, juga berasal dari Jawa. Ada nilai-nilai etika Jawa yang
menjadi pegangan oleh pemimpin kita. Bahkan bisa diklaim sebagai pembentuk
kepribadian yang memengaruhi kebijakannya, yakni sepi ing pamrih dan rame ing
gawe. Sepi ing pamrih jika
dipadankan dengan kepribadian Jokowi, ini masuk pada sifat Jokowi yang tenang
dalam menyikapi masalah. Rame ing gawe
diartikan lebih banyak bekerja, nampak dari nama kabinet Jokowi, yakni ‘Kabinet
Kerja’.
Dalam
menanggapi gejolak perpecahan di Indonesia, Jokowi menyampaikan pernyataannya
dengan tenang dan mengutamakan perdamaian. Presiden yang terkenal njawani dan sederhana menerapkan
nilai-nilai Jawa yang sudah ada sejak masa leluhurnya.
Berikut kutipan pidato Jokowi yang diambil dari laman m.merdeka.com:
Berikut kutipan pidato Jokowi yang diambil dari laman m.merdeka.com:
Karena
kita adalah saudara. Jangan saling menjelekan. Karena kita ini adalah saudara.
Jangan saling memfitnah. Karena kita ini adalah bersaudara. Jangan saling
menolak. Karena kita ini adalah saudara. Jangan kita saling mendemo. Habis
energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif seperti itu. Kita adalah
saudara. Saudara dan sebangsa dan setanah air.
Jika
dilihat dari kutipan tersebut, Jokowi hampir sama dengan Soekarno, melakukan
repetisi. Dalam satu paragraf, ada kata ‘saudara’ yang diulang sebanyak tujuh
kali. Bisa jadi, Jokowi mengadopsi gaya berpidato Soekarno yang peletakan
repetisinya sedikit berbeda. Sama halnya dengan menanggapi gejolak perpecahan,
pada isu radikalisme di Surabaya Jokowi juga menghimbau masyarakat untuk tetap
tenang. Tetapi, sebagian masyarakat geram, lantaran aksi teror di Surabaya
sudah banyak menelan korban.
Isu
radikalisme di era Jokowi memang berbahaya, lantaran menyelinap masuk ke
Perguruan Tinggi. Pekan lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)
mengungkapkan beberapa kampus ternama yang terpapar radikalisme, yang diklaim
akan mengurangi kredibilitas kampus itu sendiri. Kali ini, Jokowi tidak bisa
mengambil sikap tenang sehingga mengajak berbagai kalangan untuk lakukan
deradikalisasi, lantaran sudah sangat mengkhawatirkan.
Revisi
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme yang sudah
diajukan sejak 2016 lalu, baru disahkan oleh DPR setelah banyak aksi teror yang
terjadi. Bahkan Jokowi sempat mengancam akan menerbitkan peraturan pemerintah
untuk mengganti revisi undang-undang. Dalam penanganan kasus isu radikalisme,
Jokowi mengambil langkah tepat. Lantaran jika DPR tidak didesak, akan terus
begitu setiap saat; mangkir dari sidang paripurna, tidur sepanjang kerja.
Setelah
jatuh bangun melawan radikalisme. Indonesia didaulat menjadi anggota tidak
tetap Dewan Kehormatan PBB. Tentunya ini kabar baik, lantaran Indonesia mempunyai
akses yang mudah untuk memengaruhi kebijakan PBB. Sayangnya, jarang yang
mengetahui kabar tersebut. Lantaran media kini lebih banyak menyuguhkan hiburan
ketimbang kabar yang menyegarkan pikiran.
Padahal,
media elektronik seperti televisi lebih banyak menarik perhatian ketimbang
koran atau meda sejenisnya. Sehingga, alangkah lebih baiknya Jokowi merawat
TVRI bukan hanya sebatas stasiun televisi milik negara. Atau membuat stasiun
televisi baru khusus milik pemerintah. Katakanlah, dalam stasiun televisi tersebut
menjadi media pengumuman prestasi yang telah dicapai oleh pemerintah,
mengabarkan hal yang bisa menjadi bahan pemecah belah. Hematnya, menjadikan
stasiun televisi yang baru menjadi media pendidikan masyarakat agar lebih
cerdas.
Dengan
catatan, tanpa ada penggunaan kalimat yang mendesak masyarakat untuk
menjatuhkan pilihannya pada suara yang sama. Agar pemerintah merasa diawasi
oleh masyarakat dan dengan leluasa masyarakat bisa menilai hasil kerjanya.
Lantaran, manusia terkadang mendewakan sifat luputnya, yakni lupa. Bahwa
kabinetnya dinamakan ‘Kabinet Kerja’.
Daftar Pustaka
Lesmana, Tjipta.
2009. Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka
Utama.
Purklolon Tokan,
Thomas. 2016. Komunikasi Politik.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sutanto, Teguh. 2013. Belajar Kepemimpinan Jawa dari Soekarno
Hingga Jokowi.
Yogyakarta:
Buku Pintar.
[1] KBBI Offline 2017
[2] Naskah
pidato Soekarno yang dimuat secara lengkap oleh Barata Yudha empat edisi berturut-turu, dari 17-20 Januari 1966.
0 komentar