Kopi Ki[t]a


Oleh: Umi Uswatun Hasanah

(Foto: Google)

S
ejatinya aku kesulitan meramu minuman yang sangat kamu nikmati begitu pula dengan aku. Betapa tidak? pahitnya kerinduan sudah kureguk tanpa basa-basi. Di sela-sela pertemuan yang direncanakan begitu lama, ternyata pertemuan kita singkat sekali. Sekali lagi, adakah yang lebih pahit dari menahan rindu yang begitu akut? Hingga kuramu minuman yang biasa kubuat pun tidak manjur.

Kopi kita. Kucoba meramu minuman yang sama-sama kita cintai. Kuseduh dengan air hangat yang baru saja kuangkat. Bubuknya hitam pekat. Aku seperti tengah meraba keinginanmu. Mengeja rasamu.

Kopi kita di meja. Layar monitor tetap menyala. Membiaskan warna kebersamaan kita. Sebentar. Ingin kupastikan. Masihkah kita bersama? Dalam dialog yang sedikit berhenti, sedikit kembali, sedikit mati. Hingga kita memutuskan untuk masing-masing bermonolog dalam hati. Meredupkan seketika dialog yang kadung tercipta di antara kita. Mau tidak mau.

Kita saling diam. Sibuk dengan monolog dalam hati. Lalu; satu sama lain saling menerka dengan teliti perihal apa yang dimonologkan dalam hati. Ingin tahu. Ya. Sekadar ingin tahu. Selebihnya? Tidak peduli sama sekali. Itu yang kamu sebut ‘kita’, bukan? Bersama dalam ketidakpedulian.

Kopi kita hampir dingin. Seperti suasana yang tengah kita alami. Tidak hangat, tidak juga dingin. Perlukah aku tambahkan es batu pada kopi kita? Agar lebih dingin, serupa hati yang kian membeku sejak sore saat rintik hujan menitikkan diri pada noktah lembar naskah cerita kita yang kukarang bertahun-tahun lalu.

Akhirnya, kita sepakat. Tak perlu membalas dendam perihal laku yang begitu wagu. 

Perihal kopi kita, bermanja pada ramuan pekatnya hitam bercampur sedikit gula. 

Purbalingga, 23 Agustus 2016.


0 komentar