Panggilan Ngopi Sambil Diskusi Emang Nikmat, Tapi Jalan-jalan Bikin Sehat




Saat sedang ketiduran dengan asiknya, ada panggilan telepon. Sembari setengah sadar, aku jawab sekenanya. 

“WhatsAppmu aktifin.”
“Ada apa, Mbak? Kemarin WhatsAppnya aku uninstall. Pusing banget aku, patah hati ndak ilang-ilang.”
“Diajak ke Yogya sama Kak El.”

Kurang lebih begitu percakapan kita; aku dan Ketua Umum Kohati Cabang Purwokerto, Mbak Ummu. Tanpa babibu, aku langsung instal WhatsApp. Dan, benar, pagi pukul 06:11 WIB, Mantan Ketua Umum HMI Cabang Purwokerto Kak Elisa Sugito mengirim pesan, “De, Rabu free ga? Kalo free ikut ke Yogya, gih. Sama teman-teman HMI Purwokerto lainnya”.  

Tanpa tahu mau ngapain, aku langsung mengiyakan. Sejak patah hati, aku bertekad bahwa panggilan senior adalah yang utama. Hehe. Tetapi, kemudian, tidak lama, Mbak Risma mengirim susunan acara di Yogya. Pertama, nonton syuting film Demi Waktu. Kedua, ziarah ke makam Ayahanda Lafran Pane. Ketiga, ke Sekre UAD. Setelah itu, bebas kita mau ngapain. 

Selanjutnya, pukul 01:00 WIB dari Puwokerto kita berdelapan berangkat ke Yogya. Sampai di sana, kita tidak langsung nonton syuting. Tetapi, kita berhenti di rest area untuk bersih-bersih dan sarapan. Baru kemudian, pukul 08:00 WIB kita menuju ke Bandara untuk bertemu dengan Kak El dan teman-teman HMI Cabang Yogyakarta. 

Dengan sedikit kenalan dan obrolan, kita semua berangkat ke lokasi syuting. Aku lupa daerah apa, yang jelas lokasi syutingnya di daerah padat penduduk. Benar, sampai di sana ada banyak crew yang sedang makan, istirahat, dan nyebats. Dengan keahlian lobi senior, kita langsung nyampur dengan crew di ruang logistik. Tapi, eh, tapi, ternyata kita salah lokasi syuting. Mereka bukan sedang membuat film Demi Waktu, tetapi film web series yang diadaptasi dari Drama Korea. Haladalah.. 
   
Sekilas info, Demi Waktu merupakan film tentang pendiri HMI, Ayahanda Lafran Pane. Kisah itu diangkat dari karya Ahmad Fuadi yang bertajuk Merdeka Sejak Hati. Pemeran utamanya adalah Dimas Anggara. Dilansir dari Kompas.com, produser film ini, Deden Ridwan, menuturkan, Lafran Pane adalah sosok yang inspiratif dan heroik. Kisahnya menggerakkan jutaan alumni HMI untuk terlibat membangun Indonesia. Oleh karena itu, kisah Lafran Pane harus disebarluaskan.

Sepertinya benar yang dikatakan Deden, baru aku menginjakkan kaki di makam Ayahanda Lafran Pane, ada semacam energi positif yang masuk dalam diriku. Ada beberapa wacana di himpunan yang membuatku ingin lekas-lekas diwujudkan. Tidak hanya itu, saat aku menunduk dan menaburkan bunga di atas makam Ayahanda, dalam hati aku berkata, “Maafkan Adinda, Ayahanda. Maafkan, Adinda yang sudah semester lima, masih jadi anak bastra. Terus suka kabur-kaburan kalau jadi panitia”. 

Padahal, waktu itu Yogyakarta sedang panas-panasnya, tetapi hatiku kok kayak tersayat-sayat gitu aja. Bisa jadi, kalau Ayahanda masih hidup, telingaku udah dijewer berkali-kali. Pasalnya, seniorku aja sering bilang gini, “Koe ki karepe dewek, domong ngeyel, diwei tugas kabur-kaburan”. Haduuuu, pusing-pusing..

Terlepas dari semua itu, aku pikir HMI adalah salah satu organisasi dengan cara pengkaderan yang unik. Selama ini, aku menangkap ada dua cara pengkaderan ala senior: pertama, dengan cara intelek. Kedua, dengan cara bar-bar. 

Untuk cara yang pertama, biasanya senior ini ngajak ngopi lalu diskusi. Kita memenuhi sekre sampai diskusi yang dibahas tuntas. Tapi ini kalau kadernya berangkat semua. Hehe. Btw, diskusinya tidak melulu soal HMI, tapi ada juga soal filsafat, sejarah, bahkan juga perkara cinta. Kalau cara yang kedua, biasanya senior ini datang tidak menjual HMI, tetapi menawarkan diri. Mereka menawarkan kenyamanan agar kita bertahan di himpunan. Kakanda tahu lah, tidak perlu Adinda jelaskan~

Hmmmm, kalau aku, sih, ndak gitu. Soalnya aku dulu dikader sebelum menginjakkan kaki di kampus tercinta. Cuma, setelah masuk, hasil analisisku gitu. Btw, aku mau ngasih pesan ke senior, “Panggilan ngopi sambil diskusi emang nikmat, tapi (panggilan) jalan-jalan bikin sehat. Hehe”.


0 komentar