Lantaran
apa-apa yang aku lihat memang acapkali dari sudut pandang lelucon. Maka, ketika
aku menulis, pun itu lelucon. Virus dusta akhir-akhir ini merajalela, dari
orang gila yang dikira penculik anak-anak. Dari kamu yang mengaku setia padahal
tidak. Malam itu, aku mendapat kiriman foto koran via Grup WA kelas, yang
biasanya diisi dengan gambar-gambar nista warganya. Foto koran itu berheadline:
“Soal USBN Bocor lewat Aplikasi WA”.
Membaca
itu.., aku tidak langsung percaya. Tidak langsung prihatin. Tidak langsung
menangis tersedu-sedu serupa diphpin sama kamu. Barangkali itu salah satu dari
virus yang tengah jadi primadona. Makanya, aku mencari berita yang bernada serupa
di internet. Sebenarnya, aku tidak paham betul perihal kevalidan dari berita
yang disebar internet atau berita yang ditulis di koran itu lebih sahih yang
mana. Aku tidak tahu. Tapi, membaca keduanya, dari berbagai sumber yang
berbeda. Intinya sama.
Aku
sangat menyayangkan adanya indikasi kebocoran soal USBN itu. Bukan sebab ada kecurangan yang melanda. Tapi, sangat disayangkan bahwa aku tidak mendapat
bocoran soalnya. Padahal, aku mempunyai aplikasi WA, kok bisa-bisanya aku tidak
mendapat pesan berantai yang isinya soal USBN itu? Aku juga tidak berdiam diri,
aku ada usaha untuk mencari. Aku mulai dengan cara japri satu-satu, dari yang
nggak kenal sama yang sok kenal. Pokoknya aku japri. Dan hasilnya luar biasa.
ZONK semua. Alih-alih ingin mendapat bocoran soal, malah disuruh tobat. Serupa
ini:
![]() |
| [Foto: Grup WA Sankar] |
Sumpah,
covernya itu sudah sangat meyakinkan. Tapi kok ya malah disuruh tobat. Benar
juga sih, bumi memang sudah tua.
Kalau tobatnya tidak segera, kapan kita baiknya? (calon ustazah lagi ceremah,
dengerin).
Mamake
(dibaca: Ibu) acapkali mengajari: yang lahirnya lebih dulu (pusatnya), dapat
jatah yang lebih banyak. Sebab, yang namanya adil itu bukan dibagi sama rata,
tapi dibagi sesuai tempatnya. US (Ujian Sabar) tanpa BN (Bertingkat Nasional)
itu aku masih bisa membaca soalnya dengan mata telanjan. Serta gambar pohon
pisang yang sengaja kugambar pun masih sangat jelas. Kok yang US (Ujian Sabar)
dengan BN (Bertingkat Nasional), aku sama sekali tidak bisa melihatnya. Bahkan,
tintanya mudah terhapus (seperti tintanya padaku. *omg). Padahal, mataku itu
masih normal – nggak minus apalagi plus, tapi kok rasanya teteeeeeep aja burem.
Karena takut salah jalan, makanya beberapa kali aku bertanya: “siapa yang
memperbanyak ini?” (seraya memperlihatkan lembaran kertas burem). Bukan karena
lagi lapar, tukang modus, atau lagi mabuk kebanyakan makan tinta. Tapi, karena
seperti apa yang aku katakan – takut salah jalan.
Lebih
dari itu, entah itu penyakit atau efek dari penglihatan yang burem. Ketika aku
membaca tulisan tanpa spasi, itu rasanya
nyesek abis. Sumpah, itu lebih nyesek dari melihat gebetan yang suka
jalan sama cewek lain, atau suka upload foto cantik di akun sosmednya.
Pernapasanku jadi agak terganggu, padahal aku tidak mempunyai riwayat penyakit
asma. Anehnya lagi, kenapa yang menjadi penyebab gangguan pernapasanku itu
“tulisan tanpa spasi”? bukan butiran debu? Seperti kamu yang menghilang di
telan waktu. *eeak.
Jauh
dari semua itu, untuk mempersiapkan ini, aku mengahabiskan banyak uang saku
(Itu membuatku tidak makan di sekolah, tidak bisa menabung untuk bayar utang,
tidak bisa beli quota, termasuk tidak bisa membalas pesan kamu *ini lebay). Jadi, selain aku jual-jual buku dengan harga
yang terjangkau. (Bisa hubungi via WA: 085742396774 atau e-mail:
Umiuswatun17@gmail.com). Aku juga tengah mencari tukang jual beli fotocopy-an
yang daya belinya bernilai tinggi. 1 kilogram 50ribu, misalnya. Yang suka beli
fotocopy-an dari berbagai macam jenis pelajaran, bisa menghubungi kontak yang
tertera atau temui langsung ke rumah. Ada banyak berkilo-kilo kertas yang sudah
kujadikan satu. Membantu pelajar sepertiku untuk bayar tagihan paketan data,
insyaalloh dapat pahala. Ketimbang aku terjerumus lalu ikut ngrumus.
Btw,
kawanku. Pokoknya aku sebut kawan. Karena frustasi banyak pengeluaran untuk ini itu. Serta, ndilalah dapat musibah harus memperbaiki
kekasih hatinya (laptop). Entah dapat pikiran dari mana, ia ikut-ikutan buat
ngrumus togel. Jadi, setiap malam ia sengaja bangun dari tidurnya untuk ngecek
nomor mana yang keluar. (Ini beneran).
Kita
kembali lagi ke USBN. USBN (Ujian Sabar Bertingkat Nasional) bukan sekadar
menguji kesabaran dengan tingkat nasional. Kita dituntut untuk mengkritisi
segala yang nampak. Bukan soal menerima apa-apa yang diberi, namun lebih menyaring
apa-apa yang samar dari hal-hal yang tidak bertanggung jawab. Semoga aku, kamu,
kita, mereka, dan banyak lagi. Bahagia dengan nilai kesabaran yang tinggi. Jika
bukan, aku, kamu, kita, mereka, dan masih banyak lagi. Lalu siapa lagi? *Meluk
guling.
Purbalingga,
23 Maret 2017.

0 komentar