Sejak
Buku Mojok mengumumkan PO buku Rusdi Mathari (selanjutnya ditulis Cak Rus) di
akun instagramnya. Aku sangat tertarik. Tapi karena beberapa hal, aku
menanggalkan niat untuk ikut memesan. Ya, ternyata jodoh memang tidak ke mana.
Tiba-tiba udah di tangan aja. Percayalah, jodoh ada di tangan kita. Tinggal
punya uang atau tidak. Hehe
Karena Jurnalisme Bukan
Monopoli Wartawan berisi kritik Cak Rus untuk dunia media
dan jurnalisme. Kritik yang disusun menjadi buku. Yang pernah dipublikasi di
blog, facebook, pelatihan jurnalistik. Cak Rus tidak malu untuk melucuti dunia
media dan jurnalisme. Sekalipun, Cak Rus sendiri bekerja di media–sebagai
wartawan. Berikut ulasan bukunya:
1. The Clicking Monkeys
Menurut Daru Priyambodo pemimpin redaksi Tempo.co: the clicking monkeys adalah julukan
untuk orang yang dengan riang gembira mengklik telepon selulernya untuk
menyebarluaskan hoax ke sana-kemari,
me-retweet, atau mem-posting ulang di media sosial.
Cak Rus sepakat dengan Daru, tetapi kemudian banyak
wartawan yang justru melakukan itu. Mereka bekerja mengatasnamakan industri
media. Lalu, mengesampingkan kode etik jurnalistik. Suatu hal yang menggelitik.
Lantaran, mereka buru-buru mempublikasi. Tanpa akurasi dan verifikasi.
2. Kebohongan
yang dilakukan wartawan
Cak Rus menuliskan wartawan dan kebohongan adalah
dua senyawa yang tidak boleh bersatu. Sayangnya, banyak wartawan yang tidak
paham dengan tuntutan profesinya itu. Mereka melakukan kebohongan dan menjadikan
sebagai kebiasaan.
Seperti: mengubah dateline, melakukan kloning, menulis berita berdasarkan satu
sumber, dan tidak mencantumkan dari mana mengutip sumber.
Lalu, Cak Rus mengungkapkan dua alasan wartawan
berbohong. Pertama, karena mereka tidak paham dengan kode etik jurnalistik.
Kedua, karena industri media sudah mirip pabrik tahu.
3. Wartawan
menerima uang
Dituliskan oleh Cak Rus, wartawan yang menerima uang
dari sumber adalah haram. Tetapi, kemudian banyak wartawan, media, organisasi
wartawan yang mendapat uang. Dengan hukum yang masih abu-abu.
Misalnya: wartawan ikut rombongan pejabat ke suatu
tempat lalu mendapat uang dan fasilitas, wartawan mendapat uang setelah menjadi
pembicara, dan wartawan menjadi tim sukses suatu kepala daerah lalu mendapat
sejumlah uang yang lumayan.
4. Wartawan
yang tidak berdaya
Wartawan di Indonesia seringkali disebut-sebut
sebagai “anak manis”. Lantaran mereka menerima apapun yang diberikan oleh
bosnya. Sampai berimbas pada kesejahteraan mereka.
Namun, Cak Rus menolak untuk menjadi “anak manis”. Cak
Rus mewakili Serikat Karyawan Trust
(Sekat) tidak tinggal diam ketika melihat wartawan Trust diPHK. Dengan mempertanyakan alasan mem-PHK, mengajukan
gugatan ke pengadilan, dan upaya lainnya. Tetapi, malah Cak Rus dan kedua
wartawan lainnya yang di-PHK tidak menerima pesangon sama sekali.
5. Mengembalikan
kehormatan wartawan
Menurut Cak Rus, ketika media melakukan kesalahan,
seringkali menempelkan permintaan maaf atau ralat di halaman “Surat Pembaca”.
Atau menuding pengkritik kalau tidak paham kode etik jurnalistik.
Tetapi, kemudian, Cak Rus memberikan cara lain untuk
mengembalikan kehormatan wartawan. Yakni mengadopsi cara redaksi Rolling Stone, mengundang penulis luar
untuk membedah laporan yang bermasalah.
Membaca buku Cak Rus, seperti menyaksikan bunga di
tanah tandus. Aku jadi ingat serial Turki yang judulnya “Mother”. Di serial
itu, ada seorang wartawan terus mengejar narasumbernya. Seorang fotografer yang
pernah menjadi guru yang menculik muridnya. Lantaran mendapat kekerasan dari
pacar ibunya.
Wartawan itu terus mengejar mereka ke manapun.
Bahkan, mengancam akan mempublikasi berita itu, kalau tidak mau melakukan
syarat yang diminta. Di sisi lain, penculikan itu menyelamatkan. Tapi, kemudian
tidak bisa dibenarkan. Ah, aku lupa, kisah wartawan di serial Turki hanya
drama. Jangan-jangan, begitu juga dengan kita...

2 komentar
Mantap um
BalasHapusUwuwuwuwu.. Terharuuu aku dikomen sama penyair..
BalasHapus