Komunikasi
Visual: Etika Komunikasi Visual
Etika
berkaitan erat dengan standar yang disandarkan pada penilaian moral. Lantaran dalam
menganalisis, mempunyai konsep: benar,
salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika komunikasi visual sendiri merupakan aturan tingkah
laku dalam proses penyampaian pesan antara komunikator dan komunikan yang
berlaku dalam setiap tataran komunikasi.
Ada empat matriks yang dijadikan acuan dalam etika
komunikasi visual, yakni: proses etis dan makna etis, proses etis dan makna
tidak etis, proses tidak etis dan makna etis, dan proses tidak etis dan makna
tidak etis.
Saya memutuskan untuk menganalisis potret unjuk rasa
mahasiswa Purwokerto di Alun-alun Purwokerto yang mengutuk kekerasan aparat di
Temon dan menolak pembangunan NYIA di Kulonprogo yang masuk pada proses etis
dan makna etis.
Proses
Etis dan Makna Etis dalam Pengambilan Foto Unjuk Rasa Mahasiswa di Purwokerto
![]() |
| Foto: Dok. LPM Saka |
Unjuk rasa menjadi salah satu bentuk aksi
solidaritas mengutuk kekerasan di Temon dan penolakan pembangunan New
Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kulonprogo pada Sabtu (14/4) sore di
Alun-alun Purwokerto.
Pengambilan foto diperlukan guna memenuhi tugas
liputan LPM Saka. Foto tersebut adalah salah satu bentuk foto jurnalistik yang sudah
pasti harus berdasarkan fakta.
Nampak dari foto unjuk rasa, mayoritas massa aksi
berpakaian warna hitam, bisa diartikan sebagai salah satu bentuk duka atas
terjadinnya beragam kekerasan yang terjadi di Kulonprogo dan Tamansari. Diekspresikan pula dengan banner yang ditulis tangan
dan berbunyi: mengutuk kekerasan aparat di Temon, menolak pembangunan NYIA, all
cops arebastard, dan Tamansari melawan.
Foto tersebut dipublikasi tanpa ada manipulasi. Jika
dikaitkan dengan konsep etika, foto ini mencakup “benar” dan “bertanggung
jawab”. Kenapa bisa demikian? Lantaran unjuk rasa tersebut memang benar terjadi
dan bisa dipertanggungjawabkan. Sementara itu, aksi tersebut pun terjadi secara
aman dan terkendali oleh kordinator lapangan.
Sehingga, saya putuskan bahwa foto tersebut
mempunyai proses etis dan makna etis. Lantaran bukan suatu hal yang menyinggung
SARA, diambil tidak dalam keadaan rentan, dan foto tersebut siapapun bisa
menerimanya.
Unjuk
Rasa untuk Mahasiswa
Waktu itu, saya bertanya pada salah satu senior di
kampus, Bang Mukhamad Abdul Aziz, menyoal unjuk rasa. Apakah manfaat unjuk rasa
untuk mahasiswa? Lantaran meski saya suka menyaksikan beragam bentuk unjuk rasa,
belakangan baru saya tahu bahwa tidak semua unjuk rasa bisa berdampak nyata,
apalagi kalau massa aksinya hanya sebatas mahasiswa dan masyarakat yang
ikut-ikutan saja.
Menurutnya, unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa
tidak bisa langsung berdampak pada birokrasi. Namun, unjuk rasa bisa dijadikan
oleh mahasiswa sebagai alat pengembangan diri dalam mengkritisi birokrasi. Dan menjadi penekan birokrasi, bahwa kinerjanya selalu diawasi.
Saya sepakat dengan pendapat itu. Sebab, semakin ke
sini, banyak anak muda yang apatis dan lebih memilih untuk sibuk bermain dengan
gadget yang dimiliki. Tanpa tahu ada banyak hal yang direkayasa di luar sana. Tetapi, dalam mengkritisi birokrasi atau suatu lainnya, juga musti berlandaskan konsep etika.
Hal mudah yang musti dilakukan yakni tahu betul duduk perkaranya dan jangan serampangan komentar di mana
saja. Apalagi kalau komentarnya masuk dalam ujaran kebencian pada birokrasi, nanti
bisa-bisa ditangani “Tim Pembela” di istana. Btw, “Tim Penangkal Kangen” nya
kapan, Pak De? Hehe
Kebebasan berusara semacam opini, kritik, dan lainnya barangkali masih
ada, tetapi jangan lupakan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang
Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik yang mengikat
kita.
Yang selengkapnya bisa dibaca di https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/users/4761/UU%2019%20Tahun%202016.pdf.
Sebaiknya,
di era yang serba mudah ini, mustilah beretika dengan mengandung konsep benar,
salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Lantaran, semua bisa
terjadi tanpa bisa kita duga.

1 komentar
Jos gandossssss
BalasHapus