Kebersamaan Jangan Dihapuskan
![]() |
| [Foto: Dok. Pri.] |
Barangkali gadget telah melimpah ruah. Hingga jarak tak lagi memusingkan, bersua kata begitu mudah tanpa harus bersua raga. Maka, biarkan anak muda melestarikan kebersamaan dengan persuaan raga penuh keakraban. Tadinya, tanpa gadget memang satu sama lain tidak mengenal, namun kita mencoba mengkolaborasi manfaat gadget dengan kebiasaan orang Indonesia yang ramah. Kita memang tidak perlu menutup mata perihal kecanggihan tekonologi, hingga membuat “gaptek”. Betapa sadar akan keberadaannya, perlu diapresiasi secukupnya.
Salah satunya menyadari akan keberadaan aplikasi yang dapat dengan mudah memunculkan wajah di depan layar. Hanya saja kita tidak mesti melulu hidup berada pada sekat yang seolah tak nampak, yang ternyata jika digunakan tanpa kesadaran yang penuh, bakal jadi masalah besar yang harus lekas diasingkan. Pengguna dan yang digunakan harus saling melengkapi. Di mana pengguna cerdas menggunakan dan yang digunakan pandai menjaga performa. Apalagi untuk anak muda yang getol sekali mengobati rasa ingin tahu dalam rangka mencari jati diri.
Anak muda memang harus punya wadah, di mana wadah tersebut seharusnya dijadikan media melestarikan keramahan orang Indonesia. Ada pula istilah Jawa yang kerap digunakan: “makan nggak makan, yang penting ngumpul”. Nampaknya istilah tersebut perlu dibenahi sedikit, sebab kita berada pada zaman yang segalanya ingin diberikan kenyamanan. Maka, istilah tersebut bisa diganti dengan: “berkumpul penting, jamuan pun perlu”. Tidak hanya itu, saat persuaan terjadi, meletakkan gadget sebentar pun perlu dilakukan. Agar dalam melestarikan kebiasaan orang Indonesia yang telah menjadi identitas sejak dulu, bisa terlaksana tanpa sekat yang samar-samar bakal menerkam dari belakang.
Sekat-sekat yang kerap memanipulasi itu diharapkan bakal terkikis perlahan selepas kerap mengadakan persuaan yang mendiskusikan banyak hal. Termasuk perihal sesuatu yang nampak rumit, hingga perlahan terurai menjadi sesuatu yang sederhana. Tinggal bagaimana tetap konsisten mempertahankan tindakan-tindakan demi perubahan. Tanpa berubah, kami bakal tak mengenal dunia. Seperti halnya mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan tanpa pandang bulu, tanpa mengenal kasta, tanpa memperhatikan lekuk kekurangan yang ada – jatah usia.
Jatah usia telah ada sejak sebelum manusia ada. Sesuai dengan porsi dan kebutuhan masing-masing. Maka, cara tepat untuk melakoni skenario yang telah diberikan, perlu dengan cara yang sederhana namun mengena – bersyukur. Bersyukur tak ada yang salah. Bersyukur telah sampai pada usia yang nominalnya bertambah itu perlu, ketimbang terus menyalahi kesalahan yang dulu. Ini bukan perayaan, hanya sedikit cara bersyukur kepada Sang Maha Kaya. Sebab, ada beberapa bagian yang memang bertolak belakang dengan Matematika. Di mana ketika usia bertambah, itu tandanya jatah usia semakin berkurang.
![]() |
| [Foto: Dok. Pri.] |
Sejatinya kita memang tidak sejati. Bakal mati dan meninggalkan bumi ini. Kebersamaan tak usah dihapuskan, apalagi sengaja ditenggelamkan pada zaman. Beberapa menit saja menanggalkan gadget yang canggihnya luar biasa membuat sekat itu di atas meja rumah. Mereka tak bakal hilang, sebab manusia tak boleh egois, naluri membutuhkan asupan sentuhan ketulusan dari riangnya wajah yang saling melempar senyum. Pun tak boleh saling melempar acuh, bahkan hingga mengakarkan sikap apatis pada jiwa-jiwa yang sejatinya ditakdirkan untuk saling membutuhkan.
Purbalingga, 14 November 2016.


0 komentar