Bandung (Bukan) Lautan Api Lagi




[Foto : Dok. Pri.]
B
arangkali, Januari tempo lalu, Bandung bukan lagi sekadar lautan api. Banyak hal yang menumpahi Bandung waktu itu, hingga menjadi bukan lautan api lagi. Api tertutup banyak tumpahan yang bukan sekadar api, oh, (maaf) ini bukan api, bukan pula yang sesuatu yang membakar diri.

Tumpahan wajah-wajah yang beria sebab banyak hal yang ditinggalkan sebelum ini. Rasa pengap yang katanya nanti kan berubah jadi kesuksesan. Itu katanya. Sebab benar sekali kita belum sama sekali merasakan buah hasil dari rasa pengap itu. Hasil dari kursi-kursi yang acapkali membuat kita tak sanggup berdiri, saking lamanya kursi-kursi itu menempel pada diri.

Sungguh, rasa pengap itu bakal membuat siapapun setengah mati ingin mati. Jika Sang Maha Segalanya tak menghadirkan manusia serupa pelawak, namun sejatinya obat luka pada setiap goresan yang menganga. Barangkali ini berlebihan, namun jika ditelaah kembali, itu suatu porsi yang sesuai takaran. Bukan sebab salah satu keinginan jadi pengarang yang handal, jadi aku suka sekali mengarang cerita perihal kalian. Tapi, coba baca sendiri dengan hati yang beri aku ruang di dalamnya.

Bandung (bukan) lautan api lagi, sebab banyak daun-daun hijau yang menghampar memanjakan mata, menyaksikan petani-petani memotong daun-daun hijau yang acapkali menghasilkan minuman penyalur inspirasi, kawan setia pada malam-malam yang pekat, enggan meninggalkan gelasnya meski sudah pengap.



Purbalingga, 14 November 2016.



0 komentar