Selamat dan Maaf Aku Tak Bisa Menahan Duka

Malam ini, tepatnya pukul 00:00 WIB. Kali ini, aku hanya ingin kau mendengarkanku. Bukan membaca tulisanku. Sebab aku tahu lelahnya ketika mata dipaksakan membaca suatu hal yang aku sendiri tak tahu kau betul suka atau berpura-pura suka agar nampak mengapresiasi tulisanku. Ya, kali ini. Barangkali cukup luangkan waktu beberapa menit saja dalam hidupmu tuk mendengarkanku. Dan aku tidak bakal menceritakan perihal kedekatan kita yang secara tiba-tiba.

Aku mulai bingung tuk mengawali apa yang harus kuawali. Benarkah aku harus mengucap selamat? Atau aku harus berduka. Karena dalam ilmu matematika, angka yang bertambah membuat gembira, sedang dalam ilmu kehidupan, bertambah usia sama halnya dengan jatah usia yang semakin berkurang. Sepertinya kali ini aku harus berbuat adil, kuawali dengan keduanya. Selamat dan maaf aku tak bisa menahan duka.

Aku tak pandai merapal masa depan, hanya gemar berharap untuk menghasilkan masa depan yang cemerlang. Barangkali, waktu itu, di mana belasan tahun lalu kau dilahirkan oleh seorang perempuan yang sampai kini merawat tanpa tujuan belas kasihan, sebab itu benar bentuk kasih yang sejatinya. Perihal sisa usiamu. Kalaupun aku harus bertanya dengan siapa kau akan menghabiskan sisa-sisa usiamu? Barangkali tidak bisa kau jawab seketika itu.

Aku tak suka memberi kado pada saat hari lahir siapapun. Kalaupun aku harus memberi hadiah, tak akan aku berikan pada saat peristiwa hari lahir, yang sejatinya aku lebih merasakan duka ketimbang bergembira seperti lainnya. Atau sekadar menyalakan lilin-lilin di pekarangan rumahmu, kemudian ditaburi tepung-tepung yang malah mengotori, bahkan melemparkan bau-bau amis yang malah nampak menjijikan. Sebab aku terbiasa menjaga hal yang sangat aku sayangi dari apapun, termasuk kotoran sekecilpun.

Perihal sikapku yang kemarin nampak acuh dan sedikit marah, namun kau malah membiarkan. Tidak ada kaitannya dengan hari lahirmu, tak ada kebohongan sama sekali, atau sekadar manipulasi rasa agar nampak lebih berkesan. Tidak. Kemarin memang begitu dan semoga malam ini sudah tidak begitu.

Terakhir. Berlaku adil. Harapanku satu. Sekali lagi, berlaku adil. Aku tahu, tujuanmu lebih banyak ke harapan-harapan yang amat penting. Tapi aku menaruh secuil harapanku padamu. Aku tak mau jadi psuat perhatianmu, yang kemudian kau tak memperhatikan harapanmu yang amat penting. Tengoklah sebentar, rawat ia, barangkali lusa nanti, harapan itu bakal berpindah pada tuan tamu yang lain. Aku tak pandai menjaga janji pada tuan tamu yang enggan menjamu.

Dan, aku tidak akan menjabarkan perihal doaku untukmu. Barangkali jika semua doanya telah terwujud, aku bakal menceritakannya. Aku memang telah terbiasa seperti itu.

Selamat dan maaf aku tak bisa menahan duka.

Purbalingga, 16 Oktober 2016.

0 komentar