Ingat
Oleh
: Umi Uswatun Hasanah
Sayang,
berapa usiamu sekarang? Aku dengar kau bertambah usia, namun yang kuketahui
jatah usianya berkurang satu tahun selepasnya. Sama halnya dengan aku, usiaku
bertambah tetapi jatahnya berkurang. Doamu kemarin menggantung, tadinya aku
bakal menyadur caramu mendoakanku. Terlepas dari semua itu, ternyata besar rasa
benciku pada saduran, ketimbang berpura-pura sama, lebih baik jujur apa adanya.
Tempo
lalu, aku kira kita berdua tidak bakal jadi berkita. Sebab kita berawal pada
imajinasi yang kumirip-miripkan pada dunia yang kubuat sendiri. Tokohnya memang
ada, hanya saja ceritanya kukarang sendiri. Mungkin hanya itu pekerjaan
pengarang, mengarang sebanyak mungkin, meski sungguh masih amatir. Memang ada
selain mengarang? Membaca barangkali tidak perlu disebutkan. Melamuni takdir?
Ah, pengarang tak perlu melamuni takdir, apalagi meratapi nasib.
Perihal
usiamu, Sayang. Ah, usiamu. Hari ini bertambah bukan? Tapi aku takut,
barangkali kau bakal melupa, kembali seperti dulu, seperti aku dan kau belum
bersua bahkan mengenal rasa yang tumbuh pada kita. Katamu, aku memang yang
paling meragukan pada hal ini, hatiku sukar ditebak, tak tahu maunya apa. Tapi,
ketahuilah, aku tahu caranya mengendalikan diri. Aku suka sekali mengendalikan,
bukan dikendalikan. Jika kau merasa aku mengendalikanmu, barangkali itu salah
satu bentuk sukaku padamu.
Aku
sempat sungguh sangat percaya, sedang kenyataannya aku tengah percaya pada
kebohongan yang ia buat. Kalau itu salah satu bentuk cerita pendek yang ia
buat, aku masih bisa mafhum. Jika itu bentuk novel yang tebalnya lebih dari 500
halaman? Wajahnya patut kukubur pada tumpukan pakaian kumal, kemudian kutaburi
bunga kematian. Aku memang sadis. Suka berlaku dingin. Dan, kali ini aku
menaruh harapan padamu, secuil, tidak banyak-banyak, selebihnya aku serahkan
pada Allah pencipta alam serta penumbuh rasa pada kita.
Berlaku
adil. Harapanku satu. Sekali lagi, berlaku adil. Aku tahu, tujuanmu lebih
banyak ke harapan-harapan yang amat penting. Tapi aku menaruh secuil harapanku
padamu. Aku tak mau jadi pusat perhatianmu, yang kemudian kau tak memperhatikan
harapanmu yang amat penting. Tengoklah sebentar, rawat ia, barangkali lusa
nanti, harapan itu bakal berpindah pada tuan tamu yang lain. Aku tak pandai
menjaga janji pada tuan tamu yang enggan menjamu.
Itu
bukan ancaman, apalagi peringatan. Biar nampak elegan saja, itu sebuah
pengingatan. Aku tak mau, salah satu di antara kita, bakal jadi ampas kopi.
Hitam. Sisa inspirasi yang bakal dibuang. Haha. Ampas kopi. Sial. Aku tak bisa
membayangkan betapa jadinya kau bakal jadi ampas kopi, atau aku yang bakal
menderita karena ini. Kalau kau tega padaku, setidaknya selamatkan bagian kecil
pada diriku – hati. Aku rapuh mengenai itu. Sebab tak bisa kudapatkan resep
dokter mengenai sakitnya hati.
Purbalingga, 12 Oktober 2016.
0 komentar