Sayang, Sudahkah Kau Makan Hari Ini?


Oleh : Umi Uswatun Hasanah

(Foto: Google)

Kali ini, biarkan saja aku mencoba memafhumimu. Aku sudah cukup mafhum dengan keadaanku, perihal perasaan yang merasa hatimu meninggalkan. Di bilik yang pengap serta sedikit cahaya. Barangkali kecoa juga ada serta tikus-tikus jalang peracun orang-orang kaya.

Sebenarnya aku ingin bertanya. Barangkali menurutmu ini basa-basi, tapi sungguh aku tak tahu caranya bertanya denganmu dengan cara selain cara basa-basi. “Sudahkah kau makan hari ini?” Ah, setengah mati aku mengumpulkan nyali. Sebenarnya aku ingin bertanya lebih dari ini. Lebih dalam. Tapi nyaliku hilang.

Aku ingat betul pernyataan yang kau buat, hatiku lebih sukar dimafhumi ketimbang hatimu. Kau salah jika itu hanya untukku. Sebab tidak hanya aku, kau juga iya. Kita satu sama lain sukar dimafhumi. Kita mendalami peran masing-masing, namun enggan memafhumi peran yang lain. Pahamilah skenario ini, sebab tidak hanya aku, tidak hanya kau. Kita tokoh yang berbeda namun berada pada satu cerita yang sama.

Mencoba menjelaskan padamu ternyata sama saja dengan menyerahkan diri pada api. Terbakar panasnya serta membakar diri. Masih untung hanya kulit yang melepuh, ketimbang mati gosong tinggal abu yang sangit. Bahkan bisa jadi Polisi tidak menemukan sidik jari atau ragaku seorang diri.

Kau memang jahat, membiarkan aku kalang-kabut memafhumimu. Ya, aku menyerah dan aku kalah. Entah kau puas atau melas. Yang kutahu, ternyata kau dikendalikan oleh dia. Manusia lain yang kucoba bandingkan dengan aku, ternyata tidak ada satupun yang lebih dari aku. Hanya saja dia pandai sekali merayu. Ah, bahasa persuasifnya ternyata mudah ditelan mentah-mentah olehmu.

Sekolah tinggimu ternyata sia-sia, jika persuasifnya si dia menyembunyikan akal sehatmu. Aku sebut kau sayang. Sayang, kasihan para Pahlawan yang sampai rela mati demi negeri. Bilamana duit-duitnya kau habiskan bersama dia yang hanya pandai merayu tapi hati nuraninya palsu.

Indonesia sudah cukup ngeri dengan Gayus yang sudah dijeruji besi, namun masih bisa menikmati uang negeri. Apakah kau salah satu dari kongkalikongnya? Ah, kenapa kau tidak beri tahu aku lebih dulu? Setelah semuanya berakhir duka untukku. Kita tumbuh pada skenario yang sama. Tetapi, kenapa di antara kita hanya aku yang berakhir nestapa?

Kita sama-sama mencuri uang negeri. Tapi aku lebih dulu masuk jeruji besi. Kau masih dengannya beria. Sedang aku makan seadanya. Syukur-syukur ada lauk yang layak untuk manusia. Kau yang mengajariku mencuri uang negeri, dan kau yang memasukkanku pada jeruji besi.

Sayang, kau benar-benar keparat!

Aku lanjutkan pertanyaanku, “sudahkah kau makan hari ini? Dengan lauk bangkai orang mati?”

Oh sayang, jaga kesehatanmu. Barangkali hidupmu tak lama lagi, aku di sini sudah cukup tenang dengan tikus-tikus yang masih hidup, setengah sekarat, dan yang berbau busuk sebab sudah mati berhari-hari lalu.

Purbalingga, 5 Oktober 2016.


0 komentar