S A N K A R 58
Oleh : Umi Uswatun Hasanah
Lima Puluh Delapan
Barangkali angka itu
terlalu banyak hingga kita kesulitan mengerti satu sama lain. Apalagi aku, aku
bahkan masih kalang-kabut mengerti kemauan diri. Yang sampai kini tak kunjung
terpenuhi. Meski, sudah kudaftar dalam ambisi diri.
Kali ini, aku enggan
menceritakan perihal awal mula kita bersua hingga kini menyebut diri sebagai
keluarga dengan darah yang berbeda.
Aku hanya coba memulai
dengan bertanya kabar. Apa kabar Sankar 58? Ternyata saking sibuknya mengerti
kemauan diri, aku lupa kita sudah menjalani jarak yang hampir membuat kita jauh
dan sulit bersua walau hanya 60 menit. Ya, meski kita masih satu ruang, namun
tetap terhampar jarak yang jika kita sadari begitu menggelikan.
Apa yang sekarang kalian
lakukan Sankar 58? Masihkah mencoba merapal alam yang tidak bersahabat dengan
tenda-tenda yang kita dirikan? Setelah berpuluh patok menghampar di lapangan.
Ternyata ada saja yang ingin merobohkan, dengan cara yang membuat kita
kalang-kabut mencari bantuan. Sebab kita makhluk sosial, masih butuh bantuan
meski sudah melakukan porsi beratus-ratus kali.
Bilamana kakak tingkat
tak menggembleng kita, barangkali kita bakal roboh dengan masalah-masalah yang
mendera tiada jeda. Oh, bukan masalah tepatnya, tapi tantangan yang harus
dijamah dengan tangan kasar akibat menggali tanah lapang, yang dijadikan tempat
patok pendiri tenda.
Ada baiknya
berterimakasih kepada mereka. Banyak buruknya ketika melupa pada mereka. Ini
bukan perihal mencari muka, namun isi yang harusnya tak boleh lupa pada
kemasannya. Terima kasih kakak tingkat.
Adakah yang masih
meragukan kebersamaan dalam kesibukkan kita Sankar 58? Anak lapang yang suka
sekali memandang alam dengan mata yang terbuka lebar. Tak boleh menutup walau
hanya bagian sebelahnya saja. Sebab, kita penerus bangsa, banyak harapan yang
kita tanggung pada pundak kita.
Tak muluk-muluk bagi
anak lapang, memandang bintang di tengah malam sudah cukup melegakan hati
ketika kegiatan berjalan lancar sesuai yang direncanakan. Ketika gagal? Tak
boleh satu tetespun air mata jatuh dari pelupuknya, sebab puluhan porsi sudah
menanti untuk kita jalani.
Keras. Cepat. Tepat.
Menggembirakan. Menegangkan. Ketika Sang Saka dicium dalam keadaan khidmat pada
waktu malam-malam yang pekat. Satu per satu mengucap janji, kemudian
meletakkannya pada hati yang semoga saja sudah terlaksana pada masa jabatan
yang kita emban.
Sampai hati, kita harus
benar-benar sadar. Bahwa kini kita telah mengakhiri masa-masa yang telah diberikan
mereka untuk kita. Bukan akhir mungkin lebih tepatnya, tetapi berhenti sejenak
yang kemudian mencari tempat lain tuk pengganti masa kita. Mungkin ‘kan berbeda
isi dan tempatnya, tetapi waktu memang tidak akan pernah berhenti untuk kita.
Walau satu detik saja.
S A N K A R 58
Hayati kembali perihal
kita, meski telah purna. Sebab, ada pertanyaan yang sampai kini masih
membayangi diri, “Benarkah Kita Bantara?” yang sejatinya Bantara. Sungguh,
perihal kita bukan omong kosong belaka. Kembali hayati.
Purbalingga, 6 Oktober 2016.


0 komentar