Bila Kita Tidak Tersua
Oleh: Umi Uswatun
Hasanah
Bilamana kita tidak
tersua di Pramuka, aku bakal tidak merasa berkawan rasa keluarga.
Namanya Ardiwan, kawan
rasa keluarga yang diamnya menyimpan seribu tanya. Bicaranya salah satu bentuk
kepeduliannya. Perintahnya bukan sebab arogannya, melainkan ingin menghasilkan
yang terbaik di antara yang lainnya.
Tadinya aku tidak
mengenalnya, menghafal namanya saja aku sukar sekali melakukannya. Tahu-tahu
kita dipertemukan di Pramuka yang kemudian diletakkan pada lini yang sama.
Meski, aku sama sekali tidak pandai sepertinya. Partner yang telitinya melebihi aku, tidak punya malunya melebihi
aku, menjaganya melebihi aku.
Ia terlalu sederhana
dan terlalu apa adanya. Barangkali itu yang menyebabkan para raden nyaman ketika
bersamanya. Ini bukan perihal hubungan laki-laki dan perempuan yang nantinya
berhubung jadi sepasang kekasih, bukan itu. Ini perihal kisah berkawan yang
mencari kebajikan bersama dalam kisah abu-abu.
Seharian suntuk, dari
pagi buta sampai malam yang pekat, kita pernah menghabiskan waktu bersama
selama itu. Bukan hanya aku dan ia, bersama pula kawan seperjuangan yang
sukarela membuang waktu bersama lebih lama dari itu. Benarkah ini penggambaran
yang berlebihan? Sungguh, sejujurnya aku tidak suka berlebihan.
Karismanya memang
nampak sekali ketika mengenakan pakaian Pramuka, namun jika kalian melihat
kesehariannya, bakal berderai-derai tawa sebab polahnya yang sedikit wagu namun
sebenarnya hanya sekadar ingin mencoba untuk menghibur dikala suntuk.
Ya, namanya Ardiwan, beda
kelas bahkan jurusan. Tapi Tuhan memberi ruang yang menjadikan kita berada pada
satu lini yang sama. Kita anak Pramuka, bukan sebab pakaiannya, bukan sebab
kadung terjebak pada permainannya, namun keterpaksaan hati yang kini malah
berat hati meninggalkannya.
Selepas ini, jangan
sampai masing-masing dari kita melupa bahwa persuaan yang berawal dari keterpaksaan
itu dilupakan begitu saja. Sebab kita kawan. Bersama dalam ketiadaan yang
kemudian diadakan.
Purbalingga,
7 Oktober 2016.

0 komentar