Anjing Gila


Oleh : Umi Uswatun Hasanah

(Foto: Google)
Bukan mauku ia tidak jadi dirinya. Barangkali kawan gilanya saja yang membuat semua itu seolah mauku. Mauku bukan maunya, aku begitu mafhum dengan itu. Tetapi waktu enggan mengalah walau hanya satu detik saja. Putarannya kan tepat meski keadaan hatiku sedang terkapar jua. Ah, kawan gilanya memang pandai sekali merangkai karangan drama yang begitu memilukan. Sedang ia lemah sekali berpikir bagian sandiwara mana yang menjengkelkan – untukku.

“Berhenti seperti anak kecil!” katanya ketus.

Aku pendengar yang cukup baik. Tapi kali ini aku berusaha seperti nampak benar-benar tidak mendengar. Aku sengaja meniru gaya kawan gilanya itu. Pandai mengarang cerita sekaligus drama. Tapi belum satupun novel atau film yang dibuatnya. Haha. Aku mulai gila. Merendahkannya memang pekerjaan yang mengasyikkan bagiku. Pekerjaan baru yang memuaskan.

“Apa? Aku tidak dengar. Oh, mungkin saja aku lupa membersihkan telingaku berbulan-bulan. Ya, akhir-akhir ini aku berubah jadi pemalas dan penyakit lupaku makin akut.”

Wajahnya berubah masam. Ah, payah sekali ia ini, ternyata selama kedekatan antara aku dan ia, masih saja tak pandai membaca perangai asliku. Oh ya, aku lupa, ia memang sama sekali tidak memperhatikanku, sebab kawan gilanya itu telah merebut semua perhatiannya. Tanpa memberi sisa untukku. Kawan gilanya memang tidak hanya pandai mengarang tetapi rakus pula dalam segala hal.

“Berhenti seperti anak kecil,” intonasinya lebih rendah, penekanannya lebih jelas. Ia memang bodoh. Aku bukan ingin ia mengulangi kalimatnya, tetapi aku mempertanyakan tidak salahkah ia berkata demikian padaku. Ah, aku lupa lagi, ia bukan paranormal, yang baru sampai ingin bertanya sudah berlagak tahu segalanya.

Aku memang harus betul tidak perlu basa-basi. Barangkali aku harus mengatakan padanya dengan jelas, harus padat dan berisi. Aku menatap matanya, aku tahu gelagatnya yang sudah setengah mati ingin menjauhkan diri dari tatapan mataku. Sebab pernah ia mengatakan, mataku seperti pedang, tak berani matanya berlama-lama menatap mataku, seperti ingin menusuk dan menyerang.

“Aku cemburu!” aku mengangkat wajahku berusaha menyeimbangkan kesetaraan kita yang susah sekali disetarakan. Tuhan memang yang maha segalanya, sebab Dia tahu, betapapun bentengku lebih kuat dari kebanyakkan perempuan, aku tetap membutuhkan perlindungan.

Napas yang ia buang malah kuhirup, saking dekatnya kita kali ini.

“Cemburu untuk apa? Kepada siapa?” ia malah bertanya, bukan menjelaskan atau menenangkan. Lagaknya makin menjengkelkan. Entah dapat kekuatan dari mana, tiba-tiba ia yang menatapku lebih tajam. Pedangku barangkali telah melukainya, makanya ia membuat perlawanan yang sebenarnya aku ingin tertawa tapi hambar.

“Cemburu itu tanda cinta. Kau tak suka aku mencemburuimu?” aku mulai menunduk, tepat dan tidak meleset, kawan gilanya memang telah mengambil habis semua yang ada pada dirinya. Sama sekali tidak ada sisa untukku. Seolah aku jadi pengemis di sini, sedang ia orang kaya yang menguasai segalanya, tetapi ia sendiri dikuasai yang lain.

Ia membalikkan badan, meninggalkan jejak kaki yang bertapak di lantai, kemudian membawa sekotak makanan Anjing. Tangannya menarik tanganku, aku sedikit kesulitan menyeimbangkan langkah kakinya. Aku sudah menduga, mau ia bawa aku ke mana. Tempat yang sama sekali tidak aku sukai. Pernah pula ia katakan, semakin aku menampakkan ketidaksukaanku, semakin menjadi-jadi kelakuannya perihal itu.

“Ini tempat yang paling romantis. Menyaksikan Anjing-anjing berkumpul lalu menungguiku. Kau tidak perlu mengatakan cemburu, sebab aku tahu betul kau mencintaiku. Tapi, ketahuilah, Anjing-anjing ini cukup jadi salah satu pelipur lara sekaligus segalanya untukku, baru yang kedua itu kau.”

Oh Tuhan, ini jawaban yang lebih dari cukup untuk membuatku semakin gila. Aku jadi yang kedua setelah kawan gilanya itu? Anjing itu? Yang benar saja, aku lebih kalah dari binatang liar. Aku mencondongkan badanku pada dirinya yang tengah memberi makan kepada kawan gilanya, lalu secara spontan aku berteriak di telinga keduanya.

“SIAL, ANJING GILA!”


Purbalingga, 2 Oktober 2016.          
            

0 komentar