Benarkah Kita Bantara?
Oleh: Umi Uswatun Hasanah
Tulisan ini ditulis
bait demi bait, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Entah bisakah disebut
puisi, sajak, gurindam, pantun, yang jelas bukan cerita roman. Tulisan ini
ditulis dengan keadaan sadar, jangan salahkan bila ada sebagian yang merasa. Bukan
karena arogan, hanya saja tidak ingin seperti para penguasa yang menguasai
bawahannya sedang kenyataan yang di atas tiada lain masih di bawah atap.
Lalu; perihal gelar
yang disematkan pada kita.
Benarkah kita bantara?
Ban-ta-ra.
Bantuan tenaga rakyat
Tanya mengulang, pada
definisi yang hampir terlupa
Bantuan apa yang telah
kita beri?
Ada bagian kecil yang
terbuang, baru kita memberi
Tenaga apa yang telah
kita andilkan?
Ada tenaga yang
tersisa, baru kita membantu
Rakyat bagian mana yang
telah kita bantu?
Ha.. ha.. ha.. balas
budi sebab mereka telah memberi ruang untuk buang air!
Benarkah kita bantara?
Ban-ta-ra.
Apa arti siluet tunas
kelapa?
Jika diri kita tidak
bisa bertahan lama pada alam-alam
Jika diri kita tidak
bisa meneruskan perjuangan
Jika diri kita tidak
bisa menebar wewangian
Jika diri kita tidak
bisa mengokohkan diri pada janji
Jika diri kita tidak
tumbuh lurus ke atas
Jika diri kita tidak
bisa hidup di mana-mana
Benarkah kita bantara?
Ban-ta-ra.
Berdiri gagah dengan segala
atributnya
Pakaian Pramuka
Hasduk
Topi
Tali Komando
Dua cikal di pundak
Apalagi?
Kebanggaan?
Manipulasi rasa pada
setiap detiknya
Benarkah kita bantara?
Ban-ta-ra.
Dalam satu wadah yang
disebut Pramuka
Satu wadah tiada isi
Satu wadah setengah isi
Satu wadah penuh isi
Satu wadah luber isi
Benarkah kita bantara?
Ban-ta-ra.
Jawab di hati kalian
masing-masing.
Purbalingga, 3
September 2016.
0 komentar