Oleh : Umi Uswatun Hasanah
Selama itu, di mana
setiap malam tiada waktu henti tuk mempermasalahkanmu. Gerak-gerikmu yang menggelitik,
lalu mengoyak hati. Terkadang inginku menyaring, pada rasa-rasa yang sulit
digambarkan pada pelukis yang mahir melukis wajah-wajah langit, lalu pada
rasa-rasa yang sulit dituliskan pada pengarang yang tekun menghasilkan
karya-karya yang mampu membuat pembaca menangis tersedu.
Pejalan yang tangguh,
aku pejalan, meski bukan hanya menggunakan kaki yang hampir berkapal sebab saat
panas datang tiada beralas. Pengeliling yang tangguh, aku pengeliling, meski
sempat beberapa kali kepalaku pusing tujuh keliling memikirkanmu yang tak
kunjung memberi arahan ke mana jalan yang harus kutempuh tuk menuju sesuatu
yang menjadi penggerakmu – baik atau buruk; hati.
Nyatanya fitrah wanita
tidak hanya tuk dilindungi, tetapi menunggu juga. Bagaimana bisa sosok yang
kerap dilemah-lemahkan, yang kerap diceritakan sebab rapuhnya tulang rusuk yang
tiada mampu menopang seluruh anggota tubuh dibiarkan sendiri di bawah panas
teriknya matahari atau di bawah pekatnya malam? Meski tetap saja bibir mengaku
sanggup. Kemudian, bagaimana bisa mengucap rasa yang mendebar tidak karuan itu
dilontarkan begitu saja pada bibir yang kerap dipoles wewarnaan merah menyala
disebut emansipasi? Kenyataan menanggalkan keinginan. Menunggu lebih elegan
ketimbang melonggarkan rasa sesak yang
ada di dada.
Malam itu, entah jam
berapa mimpi ketiban durian itu berlangsung. Paginya, seluruh rasa tersalur
pada pengakuan yang tak terduga juga waktu yang luar biasa menggoda. Katanya bola
mata yang nampak ada wajahku itu menyalurkan rasa pada penggeraknya – hati.
Sempat diri ini ragu, itu benar sebenar-benarnya rasaku dengannya telah
menyatu? Atau kepura-puraan yang menjelma sebagai pelarian, sebab saking
susahnya melupakan wanitanya yang dulu.
Biarlah, kali ini sepertinya aku harus membuta,
melupa elegan, membodohi diri. Yang penting rasaku diakui, dan ia mengakui.
Meski masih kuragu pada rasa yang diakuinya. Ah, biarlah, biar lagi, yang
penting aku telah mengakui dan dadaku terasa longgar, tiada sesak sama sekali.
Purbalingga, Hari Pengakuan, 13 Juli 2016.
0 komentar