Selayang pandang Novel Sejingga Jilbab Senja.


Novel perdanaku yang dibuat dalam waktu satu minggu. Empat hari terakhir waktu libur semester 3 di SMK N 1 Purbalingga, juga dua hari pertama waktu berangkat sekolah. Aku terinspirasi untuk menulis novel ketika ibu melarang membaca novel. Aku ingat betul, novel yang sedang kubaca itu novel milik Ahmad Fuadi yang berjudul Negeri Lima Menara, yang hingga kini aku tergila-gila dengan sosok Alif di dalam ceritanya. Ya, mungkin karena ada beberapa nasib yang sama dengan apa yang kualami tempo lalu. Entah, larangan itu malah membuatku semakin bergairah untuk nakal dan melakukan hal gila. 

Dalam hati aku menjawab semua larangan itu,"Aku bosan menjadi penurut. Biarkan aku belajar mencari jalan yang membuatku semakin tak waras memilih mimpi." 

Aku pun ingat betul ketika waktu sore dan saat hujan turun, aku mengetik impian kecil di akun facebook-ku, "Suatu saat akan ada novel bertuliskan namaku di depan cover, Umi Uswatun Hasanah." Beberapa kawanku ada yang menertawakan, ada yang mendoakan, juga ada yang mengomentari dengan tawa yang meledek, "Haha, iya nanti aku bayar 1500." 
   
Oke, aku rasa tak akan ada yang membuatku lelah bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi itu kecuali aku sendiri. Itu, masalah yang masih belum diselesaikan dengan damai. Sesekali aku merasa semangat meraih mimpi menggebu-gebu, lalu sesekali semangat itu terasa terbakar api hingga menjadi abu, dan sesekali aku dilarang bersemangat memimpi. Atau..., tidur saja selama mimpi itu ada, jangan bangun dan terus bermain dengan mimpimu, katanya.

Ambisi itu memang sengaja kubesarkan, agar usaha mereka menjatuhkanku tak sebanding dengan ambisiku. Aku memang tak pandai, tak cantik, juga tak hidup dari orang tua yang 'wah'. Maka dari itu, aku tak mau tenggelam dengan mereka yang mempunyai paket lengkap juga bonus-bonus yang melimpah yang diberikan Tuhan. Setidaknya aku harus belajar melawan takdir. 

Seperti kata Nelson Mandela, "keberanian bukan ketiadaan rasa takut." 
   

Pasca pembuatan novel pun ada beberapa masalah yang menghadang. Aku harus melewati masalah itu, dan masalah-masalah setelahnya. Aku harus berdiri tegak dan lantang meneriaki si telinga masalah. Bahwa, ‘aku tak akan menyerah’. Banyak sekali proses yang kujumpai pasca pembuatan novel ini. Dan, langsung saja, ini keterangan mengenai novel ‘Sejingga Jilbab Senja’. Jika ada yang berminat, bisa hubungi melalui akun Facebook : Umi, e-mail : Umiswatun17@gmail.com

TELAH TERBIT

Judul: Sejingga Jilbab Senja

Harga: 38ribu

Tebal: 183hal + viii

Penulis: Umi Uswatun Hasanah

Editor: Dira Ariza

Designer kover: PM Present

Sinopsis:

Gadis kampung yang telah ditinggal oleh
Bapaknya beberapa tahun silam. Ia harus berjuang dalam kehidupan hanya bersama Emaknya. Bukit bintang menjadi salah satu tempat favoritnya. Menjadi tempat keluh kesah sepanjang hidupnya. Suatu hari ia pergi ke kota, dengan membawa keyakinan yang terpatri dalam hati, dengan membawa cinta yang terpatri dalam hati, dan segala hal yang hidup di hati.

Senja Arumi Laurina, gadis kecil nakal yang berusaha keras menjadi dewasa. Dalam kehidupannya ia menemukan berbagai kejadian yang tak terduga, bahkan sesekali dapat membuat sakit perut, karena kebanyakan tertawa.


Ia sulit sekali jatuh cinta, sehingga waktu ia merasakan yang namanya jatuh cinta. Ia dijatuhkan dalam-dalam ke lubang cinta. Hingga cinta itu pula yang mengantarkannya. Tempat terakhir yang indah dan bahagia. Karena sejatinya dalam kehidupan pasti meninggalkan dan ditinggalkan.




0 komentar