Rinai Hujan Maret


Oleh : Umi Uswatun Hasanah

Kamis...
Menggeripis asa yang kian berselaput tipis
Datang hati membuatku lebih lama menunggu
Hingga tiada kepastin
Memompa darah dengan anarkis tanpa jeda juga temu titik
Ah, aku memang makhluk kepastian, persis seperti orang-orang katakan

Tiga puluh satu...
Kulihat telepon seluler tiada gerak juga nyala warna kuning
Kepala serasa berat dan perlu disangga dengan tangan mungil yang melingkar cincin imitasi berwarna perak
Sepertinya ia memang tidak akan pernah datang
Sekadar bersua lalu mengobrol ngalor–ngidul
Atau.., setidaknya bersama menyeruput kopi hitam yang pekat
Lalu bergegas menceritakan masa depan
Yang pastinya dengan aku

Maret....
Telepon seluler–ku bergetar juga menyala warna kuning
Fyuh.., desir-desir rasa lama itu singgah kembali
Atau bisa jadi menetap lebih lama lagi
Hingga berkarat dan menguning
Kubuang desir itu, aku tersiksa
Kesimpan desir itu, aku sesak
Engkau memang ambisi yang susah sekali kuraih puncaknya

Dua ribu enam belas...
Kubuka pesan singkat itu, rasaku geram setelahnya
Operator sialan yang mengabarkan paket data hangus
Lalu telepon seluler bergetar kembali mengedipkan warna kuning menyala
Aku sudah malas membukanya
Jangan–jangan operator sialan
Jangan–jangan tagihan pulsa yang menggunung
Jangan–jangan pemberitahuan setelah ini aku mati
Ck!
Aku sudah di depan. Cepatlah keluar. Aku menunggumu. Pesanmu nampak di layar
Tepat. Aku mati. Detak jantung tidak segan berhenti berdetak
Kenapa aku begitu berlebihan menyambut kedatanganmu?
Kulihat engkau bertengger di atas roda dua
Wajahmu berseri, hingga melemaskan kaki-ku tuk menyambangi engkau di depan rumah
Aku hanya sanggup melambaikan tangan, isyarat untukmu lekas masuk
Dan engkau masuk, duduk di sampingku, tawa renyah itu menyambangi hatiku yang tak karuan
Sungguh gila! Aku belum pernah duduk di samping pemilik tali jiwa

Rinai Hujan Maret...
Aku dan engkau bersender, di sofa berwarna hijau, di samping pot pohon senja
Ya, karena daunnya yang berwarna jingga
Kutanyakan kenapa engkau lama sekali
Dan engkau menjawabnya dengan santun 
Lalu aku mengangguk
Engkau memulai pembicaraan, membicarakan masa depan yang didambakan
Aku tertegun, engkau lebih mulia daripada yang aku pikirkan
Lalu rinai hujan datang menyapa
Hingga derasnya semakin terasa
Engkau mulai menyalahi hujan
Aku harus pulang jam empat, katamu dengan bahasa tubuh yang gelisah
Aku tersenyum, tanganku mengarahkan kaca kotak depan rumah yang menontonkan hujan deras berserta sayup angin yang sampai hati menggerakan pohon besar itu
Ya sudah, aku pulang jam lima, katamu lagi
Aku tersenyum, lantas berdoa; Tuhan. Hujankan saja bumi ini lebih lama, agar ia lebih lama pula duduk di sampingku.


Purbalingga, Kamis, 31 Maret 2016.

0 komentar