Oleh : Umi Uswatun
Hasanah
Ada pelajar yang secara
terang-terangan tidak mematuhi aturan sekolah, mereka membentuk suatu geng,
yang disebut dengan Geng PWG (Penikmat Wifi Gratis). Anggota dari Geng PWG
ialah tiga siswi cantik yang rambut panjangnya selalu diikat satu. Namun, tidak
ternyana, mereka berdarah dingin, sorot mata yang tajam membuat siapa saja yang
melihatnya merasa takut. Nuri sebagai ketua, Elisa sebagai pemantau area
hotspot, dan Aline sebagai detektif wifi.
Dari kejauhan nampak dua siswi masih
menggunakan seragam putih abu-abunya yang sedang duduk berderet di area
hotspot. Nuri sebagai ketua geng, mendekati para anggotanya, “hay, geng.
Bagaimana dengan wifinya? Lancar, kan?” ucap Nuri di ambang pintu.
“Lancar, geng.” Laporan dari salah
satu anggota geng PWG, Elisa, yang menjabat sebagai pemantau area hotspot.
“Bagus,
aku ambil laptop sama smartphone-ku dulu, cuma sebentar. Tunggu ya.” Nuri langsung
lari melesat dari area hotspot, diambilnya laptop dan smartphone yang
tertinggal di ruang karantina.
Langkah kaki Nuri semakin dipercepat,
tidak akan dibiarkannya ada seorang pun yang mengetahui misi rahasia Geng PWG. Ia
peluk erat-erat laptop dan smartphone-nya. Saat ia menatap dengan jeli setiap
sudut ruangan yang petang, akibat lampu yang sudah di padamkan. Tiba-tiba
smartphone-nya berbunyi, “kring.. kring.. kring..” bunyi tanda pesan singkat yang
masuk. Dengan cepat ia geser-geserkan jarinya untuk membentuk pola di layar
smartphone, ia membukanya, ternyata pesan singkat dari salah satu anggota Geng
PWG.
From
: @Elisa Geng PWG
Geng,
kau cepat kemari. Ada masalah serius.
For
: @Elisa Geng PWG
Aku
segera ke sana, 2 menit lagi.
Nuri
membalasnya dengan singkat, jari-jarinya cepat sekali mengetik di layar sentuh
yang dari kejauhan berwarna hitam mengkilat. Sesampainya di area hotspot, Nuri membisikkan
kalimat ke telinga salah satu anggota Geng PWG, “ada masalah apa, geng?”
ucapnya lirih sekali, agar tidak ada satupun manusia yang mendengar kalimatnya.
“Kita mempunyai lawan baru, ia telah
menghianati kita. Kita harus mengalahkannya, dengan cara apapun.” Jelasnya
dengan runtut, sembari menggerak-gerakan tangan mungilnya.
“Lantas hal apa dulu yang harus kita
lakukan?” tiga anggota Geng PWG seketika membentuk bundaran yang tidak
beraturan, dan kepalanya malah membuat segitiga sama kaki.
“Kita harus menjebak ia, kita harus
mencari jalan di mana ia pulang. Kita sebar menjadi tiga titik! Kalian paham?”
jelas salah satu anggota geng PWG yang dianggap sebagai ketua, Nuri namanya.
“Tiga titik?” tanya Aline dengan
melongo, ia seperti manusia yang paling bloon di dunia.
“Tutup mulutmu, Aline! Kau seperti
manusia paling bloon di dunia!” bentak Elisa dengan membelalakan mata.
“Ayolah, geng! Berhenti bertengkar!
Ingat, kita satu, bukan banyak. Satu!” setiap kata yang dikeluarkan Nuri selalu
menggunakan vokal yang jelas. Agar semua anggotanya paham dan tidak bertengkar
kembali, “ayok, kita lanjutkan rencana kita lagi. Ada yang ingin mengusulkan
rencana yang paling awal yang harus kita lakukan?” Lanjut Aline dengan
bijaksana.
“Begini saja, kita harus cari dulu
alamat rumahnya yang baru. Kau tahu akun Facebook-nya, bukan?” tanya Elisa
kepada Nuri yang sekarang di hadapannya.
“Aku tahu.” Ucap Nuri dengan
semangat.
“Sekarang kita buka saja akun
Facebook-nya, dan kita cari tahu hal apa yang kemarin ia kabarkan di kronologi-nya.”
Tiba-tiba Aline menjadi sosok profesor yang begitu cerdas, tampang bloonya
seketika hilang.
“Kau cerdas, Aline!” puji Elisa kepada
Aline yang tidak berselang dari beberapa detik, saat ia mengatakan bloon kepada
Aline.
“Hm.” Aline mendengus kesal.
“Sekarang, kau, Elisa, buka laptop dan langsung cari tahu melalui akun
Facebook-nya.” Perintah Aline dengan menunjuk satu per satu wajah Geng PWG.
“Oke, siap!”
Dengan lihai, jari-jari anggota Geng
PWG menari di atas keyboard berwana hitam, hingga terdengar setiap suara
jari-jari yang mendarat di beberapa tombol. Suara-suara dengusan kesal, detak
jantung yang seirama, dan hembusan nafas lega ketika mendapati info lawannya,
pun terdengar jelas.
“Aku
sudah mendapatkannya!” Elisa dengan girang mengabarkan kabar baik untuk seluruh
anggota Geng PWG.
“Apa
saja yang kau dapat?” tanya Nuri sembari membuka mata lebar-lebar, selebar
keinginannya untuk menjatuhkan lawannya sedalam mungkin.
“Aku
sudah mendapatkan alamatnya, sekolahnya, ibu bapaknya, dan...” tiba-tiba Elisa
menghentikan apa yang ia ucapkan, membuat seluruh anggota geng penasaran.
“Dan
apa, Elisa?” tanya Aline dengan mata melotot.
“Iya,
dan apa, Elisa?” Nuri pun geram.
“Lawan
kita telah membunuh seseorang!” ucap Elisa, wajahnya menunjukan jika ia tidak
percaya dengan apa yang di katakan sendiri.
“Membunuh?
Alexa telah membunuh? Siapa yang telah ia bunuh?” tanya Nuri dengan nada yang
tidak percaya.
“Aku
tidak tahu pasti siapa yang telah ia bunuh, tetapi di akun Facebooknya ia
menulis: ‘Kau telah mati di tanganku!’, seperti itu.”
Semua
otak Geng PWG terisi dengan ide yang sama, mereka berfikir jika inilah jalan
yang pantas mereka lewati, tanpa harus turun tangan untuk menjatuhkan lawan. Ia
sudah jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam, dan ia lakukan sendiri. Bukan
karena Geng PWG.
“Aha!”
serentak Geng PWG mengeluarkan kata yang sama.
“Kalian
tahu apa yang aku fikirkan?” ucap Nuri dengan seulas senyuman bangga yang
menghiasi bibirnya.
“Pasti
tahu.” Serentak Elisa dan Aline mengucapkan kata. Para Geng PWG seketika saling
menatap licik.
Warna
hitam pekat kini menyelimuti langit yang tadinya berwarna jingga, jarum jam
menunjuk pada angka 00:00 WIB, saat yang tepat untuk melancarkan misi Geng PWG.
Geng PWG awalnya sangat bersahabat dengan Alexa. Namun, suatu hari Alexa
berhianat dengan Geng PWG, para geng pun menjadi sangat benci kepada Alexa.
Siswi yang telah merebut jaringan wifi terbesar dari Geng PWG, sehingga
tinggalah jaringan leled yang Geng PWG nikmati.
“Ini
bukan hanya sekadar jaringan wifi yang leled, tetapi perihal penghianatan!
Mengapa Alexa tega merebut jaringan terbesar dari para geng!” Nuri menggerutu
kesal, api yang membara kini ada dalam hatinya.
“Iya,
kami pun sama setujunya dengan kau, Nuri.” Ucap Aline dengan sok bijaksana.
“Ayok,
kita buat perhitungan dengan Alexa!” ajak Elisa dengan semangat yang membara.
Tiga
siswi cantik kini telah berdiri gagah di tengah jalanan malam, mereka
menggunakan jaket kulit berwarna hitam, sepatu kulit berwarna hitam, celana
jeans berwarna hitam dan tidak lupa dengan kacamata hitamnya.
“Alexa!!
Keluar kau sekarang!” bentak para geng dari luar rumah Alexa, pintunya digedor-gedor
dengan keras.
Setelah
beberapa menit, Alexa keluar dengan wajah yang santai. Wajahnya membuat para
geng semakin geram, membuat mereka tidak bisa menahan amarah.
“Ada
apa?” tanya Alexa dengan lidah yang berdecak, menganggap remeh Geng PWG.
“Tidak
perlu berlagak bodoh! Harusnya kau telah tahu maksud kedatangan kami!” bentak
Nuri dengan keras, sembari menghentakan kaki di lantai.
“Kalian
itu apa-apaan, sudah mengatakan jika aku berlagak bodoh, dan kalian mengharuskan
aku tahu segala hal tentang kalian! Aih, kepintaranku pun tidak akan aku
gunakan untuk mempelajari semua tentang kalian!” jawab Alexa dengan ketus.
“Kau
itu tidak tahu malu! Kau telah membuat Geng PWG bermasalah dengan koneksi
internet, kau telah merebut jaringan wifi terbesar di dunia!” ucap Elisa tidak
kalah ketus dengan Alexa.
“Berhenti
merebut segalanya dari kami! Atau..” Aline menahan kalimat terakhirnya.
“Atau
apa?” Alexa mendekatkan wajahnya ke Aline, matanya yang besar, melotot, hingga
hampir keluar.
Kini
Alexa seperti terdakwa yang telah tertangkap basah melakukan kejahatan. Namun,
ia tetap tidak mengaku. Tinggalah para Geng PWG beraksi, Elisa di depan Alexa,
Aline di sebelah kanan, dan Nuri di sebalah kiri. Dari sebelah kiri, Nuri
berbisik kepada Alexa, “aku akan membongkar rahasia besarmu!” setiap kata
keluar dengan sangat jelas, agar si lawan pun mendengar dengan sangat jelas
semua penuturannya.
“Rahasia
apa?” Alexa mengernyitkan dahi, “aku tidak punya rahasia.” Lanjutnya ketus.
“Kau
telah membunuh Ardio, kan? Lelaki yang sebab kematiannya tidak diketahui oleh
siapapun.” Jelas Elisa dengan runtut, penjelasan Elisa membuat Alexa
tercengang.
“Kau
dapat informasi palsu darimana?”
“Aku
menemukan selembar kertas bertuliskan, ‘kau telah mati di tanganku!’ di sebelah
jasad Ardio. Dan kau menuliskan kalimat yang sama di akun Facebook-mu!”
“Hahaha.
Kalian bodoh sekali! Bukan aku yang membunuhnya! Itu hanya judul puisiku
untuknya!” tawa Alexa pecah.
“Begitu?
Oke, jadi hari ini kami harus turun tangan, kau yang akan mati di tangan Geng
PWG! Ingat, kau akan mati! Sekarang juga! Tidak ada satupun manusia yang boleh mempunyai jaringan wifi terbesar di dunia,
kecuali Geng PWG!” ancam Aline membuat Alexa menundukkan wajah, sepertinya ia
sekarang mulai ketakutan dengan ancaman-ancaman Geng PWG.
Pisau
tajam yang di bawa oleh Geng PWG telah menusuk bagian belakang Alexa, kini
Alexa telah mati, terkubur bersama selembar kertas bertuliskan, ‘kau telah mati
di tanganku!’. Geng PWG telah menang, sekarang tidak perlu merasa khawatir karena
masalah koneksi internet. Sebab, sekarang penguasa jaringan wifi terbesar di
dunia ada di tangan Geng PWG.
Purbalingga, 7 Februari 2016
"Menyatu bukan berarti menghapus perbedaan yang ada. Tetapi, memadukan perbedaan yang ada, sehingga hidup lebih berwarna."

0 komentar