Kartini Bukan Kartini

Kartini bukan Kartini

Oleh : Umi Uswatun Hasanah

Kota Purbalingga, yang dikenal sebagai Kota Perwira, juga terkenal dengan hasil knalpotnya itu menyaksikan ingar-bingar kesemrawutan pengendaranya. Terlebih saat pekerja wanita baru keluar dari tempat peraduan nasibnya.
Ah, pengap dan menyesakkan.
Suara klakson saling beradu, membuat telinga terasa perih dibuatnya. Bahkan dada pun terasa sesak menghirup asap kendaraannya. Apa ini duplikasi Jakarta? Yang kata orang keras dan berisik. Siap menangis dalam diam, karena empati tak tumbuh dalam jiwa.
Beberapa kali Tono hampir menabrak pengendara wanita, yang menyalakan lampu sein sembarangan. Belok ke kanan, malah ke kiri. Untung saja Tono sedang dalam kecepatan standar. Tidak sama saat ia balapan dengan kawan-kawannya.
“Kalo tidak tahu kanan atau kiri, jangan naik motor, Mbak. Kasihan yang di belakang!” Tono menasehati dengan setengah berteriak. Sedang pengendara wanita itu malah meringis tanpa dosa.
Tono mendengus kesal, beberapa kali kepalanya menggeleng, bergidik ngeri. Ketika berbuat salah tak ada kata maaf, malah meringis.
***
“Bumi manusia sudah wagu.” Ucap Tono dengan kawannya yang sedang menyruput kopi di salah satu angkringan, yang sesuai dengan isi di kantongnya.
“Halah, wagu kenapa?” Arman balik bertanya kepada Tono.
“Ya, wagu. Dianjurkan berempati, tapi kepedulian tak ada sama sekali. Lihat saja kemarin, tetanggaku pontang-panting nyari kebaya buat anaknya. Sampai wajahnya pucat pasi, terlebih anaknya yang menangis histeris.” Mata Tono tetap memandang ke arah seniman jalanan yang sedang memadukan nada dengan alat musik tradisional– kentongan. Demi mengais receh yang lalu dibelikan beberapa batang rokok, yang katanya demi memuaskan batin.
Arman tersenyum getir.
“Buat saja surat pernyataan, ‘Surat Keterangan Tidak Mampu Menggunakan Kebaya’, gitu aja kok repot!” lagi-lagi wajah tengil Arman dinampakkan.
“Itu masalahnya, Bro!” Tono mengangkat jari, tangannya kembali mengambil kopi lalu menyruput perlahan.
Arman mengubah penampakkan wajah sekenanya, keningnya berkerut. Tak paham apa yang dimaksud Tono. Lantas ia langsung bertanya apa masalahnya. Tono menjawab pertanyaan dengan sedikit guyon, agar tidak terlalu memanaskan suasana.
“Kartini yang kujumpai tempo lalu itu tidak bisa menulis. Tidak pandai seperti Kartini yang memperjuangkan emansipasi, yang telah menulis berlembar-lembar surat, hingga namanya dikenal. Untuk menulis namanya saja tidak bisa, apalagi menulis surat pernyataan tidak mampu.” Lalu tawa Tono tumpah ruah, berbenturan dengan hasil nada yang dibuat seniman jalanan.
“Memang Kartini yang kamu jumpai itu tidak punya saudara? Ia bertemu denganmu, bukan? Kenapa tidak kamu bantu saja untuk menulis surat pernyataan.” Tukas Arman dengan saran yang menjadi bumbunya.
Tono tersenyum, alisnya sedikit terangkat.
“Itu masalahnya lagi, Man. Aku bisa saja membantunya, menuliskan surat pernyataan. Tetapi, bagaimana dengan anaknya yang terus histeris itu?”
“Ya kamu bantu saja mencarikan kebaya.” Arman terus mencarikan solusi demi solusi.
“Itu lebih masalah lagi. Aku ini Kartono, bukan Kartini. Mana bisa mencarikan kebaya yang pas. Terlebih lagi, anak kecil itu ingin berkebaya bersama Kartini yang memperjuangkan emansipasi. Dimana bisa kutemukan Kartini?”
Lalu keduanya tertawa, kembali menyeruput kopi yang tinggal setengah gelas.


Purbalingga, 21 April 2016
"Bebas dalam tekad."

0 komentar