Sunyi di Dada Sumirah: Perlawanan Perempuan Tiga Masa




Semula, Suntini tidak bisa membaca. Ia hanya bisa mengasinkan telur dan menari. Kemudian, ia bertemu dengan kawan lamanya. Seorang aktivis perempuan yang memperjuangkan kaum marginal. Bersama kawan lainnya, perempuan yang akrab disapa Dyah membentuk organisasi. Suntini juga terlibat dalam organisasi tersebut. Ia melatih menari para perempuan yang dilahirkan dengan ekonomi terbatas. Saat mempunyai waktu senggang, Dyah mengajari Suntini membaca. Tidak hanya Dyah, kawan satu organisasinya juga mengajarinya membaca. 

Sayangnya, tahun 1965 membuat pergerakan mereka berakhir di rumah tahanan. Dyah dan Suntini menjadi tapol. Sedangkan kawan lainnya ada yang ditembak mati, ada yang memutuskan bunuh diri. Pergerakan mereka dianggap berbahaya bagi negara. Padahal, yang mereka lakukan adalah salah satu upaya untuk mensejahterakan masyarakat. Setelah menjadi tapol, Suntini terpaksa meninggalkan anak semata wayangnya Sumirah. Namun, seorang laki-laki yang dicintai Sumirah menjebak dirinya. Laki-laki bernama Jatmiko menjual Sumirah kepada muncikari. Selama bertahun-tahun, ia terpaksa menikmati bisnis prostitusi.

Suatu kali, Sumirah melayani laki-laki warga negara asing. Ternyata, hal itu membuat Sumirah bunting. Lantaran, tidak mau menggugurkan kandungannya, ia dijual kepada muncikari lain. Ia dibeli seharga 10juta, dengan kontrak yang jauh lebih gila. Demi kelangsungan hidup ia dan anaknya, ia menerima kontrak bekerja selama 25 tahun. Selama itu, Sumirah terus melayani laki-laki dan membesarkan anaknya Sunyi. Begitulah Artie Ahmad menggambarkan perjuangan perempuan dalam tiga masa, ia mengemasnya dalam novel bertajuk Sunyi di Dada Sumirah.

Membaca novel Artie Ahmad, seperti sedang menguliti realitas yang ada. Sebab, perempuan seringkali didiskriminasi. Lantaran, mendapatkan perlakukan yang tidak adil. Pasalnya, di lingkungan kita, tidak sedikit yang masih menjadikan perempuan sebagai objek pelengkap. Mereka beranggapan bahwa perempuan hanya bagian dari tulang rusuk yang bengkok. Lalu, secara sadar mereka menjadikan perempuan sebagai kelas kedua. Sebagai kelas kedua, perempuan seringkali dianggap memiliki intelektual dan emosional yang rendah. Sehingga, saat perempuan memaksa menuju kelas utama, dari belakang mereka menjebak perempuan untuk duduk di pojok kelas. Lalu, hanya diberi tugas mengurusi logistik. 

Selain itu, Artie Ahmad juga mendobrak budaya patriarki dengan perlawanan yang matang. Dalam situasi menjadi Ibu tunggal lantaran ditinggal, para perempuan tiga masa itu tidak berhenti untuk melanjutkan hidup. Mereka terus melawan dengan berbagai cara. Seperti menjual telur asin, melatih tari, menjadi pelayan di toko dan terpaksa masuk pada bisnis gelap. Meski dalam novel ini Sumirah digambarkan sebagai sosok perempuan yang polos dan cenderung menerima, sebenarnya ia juga melawan. Ia melawan dengan cara menerima kontrak gila, agar anaknya tetap hidup dan bertahan.

Kadang, begitulah hidup, kita dipaksa untuk memilih salah satu. Karena, bisa jadi, pilihan tersebut menyangkut hajat hidup orang lain. Meski, kata Mba Nana, “Kenapa sih perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan seolah-olah perempuan tak berdaya”. Ya, ndak papa kalau mau seperti Mba Nana. Kan, perempuan juga manusia, mempunyai hak dan kemerdekaan seperti makhluk lainnya. Tetapi, kadang, pemahaman tentang kemerdekaan untuk kita bisa melakukan apa saja, juga musti berdasar. Bukan karena ikut-ikutan atau karena takut dianggap tidak trendi. Hehe.


0 komentar