Dalam Imajinasi Saya: Kebobrokan Keadilan Gender di Kampus


Kemarin, di kampus ada Workshop Sensitivitas Gender Bagi Mahasiswa yang menurut saya menarik, lantaran saya tertarik, sehingga membuat saya buru-buru untuk lekas ke kampus dan tidak makan pagi. Sebab, di undangan tercantum pukul 08:00 WIB. Ya, maklum lah, otw saya ke kampus butuh waktu 45 menit. Lain lagi kali kalau melupakanmu. Hehe 

Seperti biasa, saya selalu membayangkan sesuatu yang belum terjadi dan akan terjadi. Dalam imajinasi saya, workshop tersebut akan menjabarkan kebobrokan keadilan gender di kampus. Sampai saya meminjam buku yang bertajuk “Kekerasan Berbasis Gender”. Edalah, ternyata bayangan saya meleset.

Dalam workhsop tersebut, pemateri menjelaskan hal-hal dasar soal gender. Seperti apa itu gender, perbedaan gender dengan seks, pengalaman pemateri dalam menyikapi keadilan gender, juga menganalisis kasus di Purbalingga yang memarginalkan laki-laki.

Memang benar, gender acap kali dikacaukan dengan definisi seks. Sampai, saat beberapa teman iseng saya mintai untuk menjelaskan. Mereka menjelaskan dua hal yang beda dengan pengertian yang sama. 

Gender merupakan sifat yang melekat antara laki-laki dan perempuan yang sudah disepakati secara sosial dan budaya. Sehingga muncul istilah maskulin dan feminin. Namun, dalam hal gender, laki-laki dan perempuan itu sama. Karena bisa jadi, ada laki-laki yang mempunyai beberapa sifat feminin. Dan, ada perempuan yang mempunyai beberapa sifat maskulin.

Sementara itu, seks merupakan jenis kelamin. Seks inilah yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian disebut dengan kodrat. Hal ini yang selalu saya katakan ketika beberapa teman laki-laki mengomentari kebiasan-kebiasaan saya, yang katanya tidak feminin. Tapi kok, kali ini aku mbudeg yaa .. wkwk 

Mengenai analisis kasus di Purbalingga dalam workshop yang baru diadakan satu kali, itu terlalu luas. Lawong, untuk hafal berapa toilet di kampus aja belum mampu, kok ya bahas kasus di Purbalingga yang bikin nganu. Nampaknya, kita memang musti menumbuhkan kesensitivitasan gender dalam lingkungan kampus terlebih dahulu, baru sama-sama menganalisis kasus gender dalam taraf luas.




0 komentar