Dialog Kepemudaan: Soal Harapan dan Aspirasi untuk Purbalingga


Dialog Kepemudaan Bersama Bupati Purbalingga – soal harapan dan aspirasi para pemuda untuk Purbalingga. Mendengar ada sebuah acara yang kesannya sangat formal apalagi soal harapan-harapan itu bayangan Saya agak ngeri. Kenapa? Lawong, untuk mengingatkan lagi harapan-harapan yang dulu pernah ada pada seorang mantan yang begitu memilukan juga menyakitkan. Apalagi, ini soal harapan besar dari para pemuda yang dalam hati menyangka usianya masih panjang. Apinya, edan tenan, cuk. Membara. Seperti cintaku dulu pada mantan yang sayangnya kini padam.
Saya tidak berniat mengumpamakan dialog di penghujung bulan Oktober dengan kisah kelam jomblo yang ditinggal mantan. Hanya saja, ada kesempatan untuk mengaitkannya. Btw, harapan yang didasari dengan kata “harap” yang menurut KBBI mempunyai arti: mohon; minta; hendaklah; keinginan supaya sesuatu terjadi. Itu. Artinya saja sudah ngeri. Bagaimana ketika kita meminta sesuatu namun tak kunjung dipenuhi, sedang hati sudah ingin. Kebutuhan sudah mendesak. Mulut sudah tersedak. Dunia rasanya sesak. Oke, Saya rasa musti menyudahi pembukaan yang alay ini.
Saya sedikit agak kepanasan ketika yang katanya acara dimulai pukul 18:30 WIB, tapi sampai pukul 20:00 WIB belum ada tanda-tanda hawa dingin (re: menunggu membuat saya kepanasan). Yang kemudian Saya baru merasa sedikit dingin ketika tembangan akustik dan pembacaan puisi serius dari Mas Dwi Nugroho yang punya Angkringan Bokol itu menggema pada pukul 20:10 WIB. Yang baru kemudian disusul dengan sambutan-sambutan. Yang pertama dari Purbalingga Bergerak yang wakili oleh Pak Andi Pranowo. Yang kedua dari Bapak Bupati. Yang terakhir dari ibu wakil Bupati yang cantik jelita.
Sambutan pertama dari Pak Andi dibawakan dengan beberapa kali pekikan untuk memancing semangat pemuda Purbalingga yang sengaja hadir dalam acara. Di awal, beliau membicarakan soal Sumpah Pemuda yang mana sebagai Pemuda musti memberi sumbangsih khususnya untuk kota Purbalingga. Dalam momentum ini, beliau juga menyampaikan semoga dialog langsung dengan bapak Bupati yang tujuan awalnya untuk menyampaikan harapan serta aspirasi para Pemuda untuk Purbalingga dalam menata masa depan bisa berkelanjutan.
Sambutan kedua dari bapak Bupati. Ini agak panjang. Beliau kembali pada sejarah, yang secara tidak langsung membuat Saya agak baper. Ini menambah daftar kegagalan move on Saya bertambah. Sekalipun gagal move on dalam sejarah itu baik dan membuat mata lebih terarah, tetapi ada celah yang membuat Saya mengingat mantan yang menggelikan dan mustinya dikubur dalam-dalam. Meski, lagi-lagi, setiap manusia memang berhak untuk hidup. Tapi, sayangnya, tidak untuk kenangan soal mantan.
Untuk mengantisipasi pelupa Saya yang akut, Saya sengaja merekam suara dari awal sampai akhir (re: sebelum saya pulang bersama bapak Bupati). Dari hasil rekaman Saya, Bapak Tasdi membutuhkan waktu tiga puluh delapan menit untuk menyampaikan sambutan yang isinya soal: kesehatan, pendidikan, sosial, perempuan. Di dalamnya ada banyak rincian anggaran yang membuat Saya pusing. Soalnya begini, Saya suka matematika tapi Saya tidak suka bermain imajinasi soal uang. Ngerii.. naskah sampai sekarang juga tak kunjung selesai. Masa Saya musti bermain imajinasi soal yang bikin nganu.
Meski kepusingan melanda. Saya akan sedikit menjabarkan seperti apa yang disampaikan Bapak Tasdi. Point pertama, Bapak Tasdi menyampaikan anggaran untuk membangun jamban sebesar lima miliar/tahun. Juga akan ada lima ambulan yang diletakkan di alun-alun Purbalingga untuk digunakan ketika keadaan yang darurat, seperti: kecelakaan, ibu melahirkan, dan yang lainnya.
Lalu, untuk mengurangi angka putus sekolah pemerintah sudah menyediakan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sayangnya, saya mendapat kejanggalan pada pendistribusian KIP ini. Sebab, di desa saya yang mendapatkan KIP ini malah anak yang sudah tidak berniat untuk sekolah. Sedangkan, anak-anak yang masih mempunyai niat membara untuk bersekolah malah tidak menerima. Hehe. Ini seperti sudah sembuh dari sakit tapi dipaksa minum obat. Sedang yang sakit berobat sendiri.
Kemudian, pemerintah juga mempunyai wacana soal penjaringan dua puluh dua anak SMA IPA yang nantinya disekolahkan di kedokteran yang selepas dinyatakan lulus, akan dikembalikan ke daerah asal. Sehingga, satu desa satu dokter. Pun sudah ada anggaran sebesar dua puluh dua miliar untuk mengangkat seribu Guru Tidak Tetap (GTT). Dalam bidang kepemudaan, ada kenaikan anggaran yang signifikan, yang dulunya hanya satu miliar kini sudah mencapai empat miliar.
Jika mengulas sambutan Bapak Tasdi yang tiga puluh delapan menit itu akan banyak sekali. Sehingga saya langsung meloncat pada pembacaan puisi dari Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) yang menggelitik dan mengundang tawa dari audiens. Katasapa membawakan dua puisi yang berbeda, yang pertama dengan judul “Hikayat Kids Jaman Now” dengan kesan canda. Sedangkan puisi kedua dengan judul “Yang Muda” dengan kesan serius dan diakhiri kumandangan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.
“Bangsa ini lahir dari puisi. Sumpah Pemuda adalah puisi yang maha dahsyat. Membaca puisi tidak perlu serius, karena serius hanya untuk lomba,” ujar Mas Ryan Rachman sebelum membacakan puisinya yang penuh canda. Pembukaan itu menarik sekali bagi penikmat sastra seperti saya.
Sebelum dialog dimulai, Mas Bangkit Wismo sebagai moderator malam itu memberi aturan main saat berdialog yang musti dilakoni. Dialog dimulai sekitar pukul 21:00 WIB. Yang diawali pemaparan dari Forum Osis Purbalingga yang isinya keresahan mengenai bobroknya pemuda Purbalingga yang terjadi akibat beberapa faktor, yang salah satunya sangat menggelitik itu soal maraknya togel di Purbalingga. Keresahan itu timbul ketika ia melihat teman-temannya lebih suka merumus togel ketimbang merumus matematika.
Forum Anak Purbalingga ternyata juga menyapakati apa yang disampaikan oleh Forum Osis Purbalingga. Juru bicara juga menambahkan keresahannya mengenai pekerja anak di bawah umur atau biasa disebut child labor. Kemudian, ia juga menambahkan soal pernikahan dini yang masih terjadi dan memberi dampak buruk yang fatal seperti kematian pada sang bayi karena rahim yang belum kuat.
Suporter bola Persibangga yang terkenal dengan Braling Mania merasakan bahwa Persibangga sudah tidak seperti dulu lagi. Seperti yang bisa dilihat sekarang ini bahwa ketika persiapan untuk bertanding sangat mepet. Dari juru bicara sendiri masih belum mengetahui kenapa bisa terjadi. Sehingga, pada bapak Bupati menanyakan soal keadaan manajement Persibangga.
Pak Bowo Leksono, juru bicara CLC Purbalingga memaparkan prestasi anak Purbalingga yang mana ada tiga sekolah yang berhasil menjadi nominasi Festival Film Indonesia (FFI). Ia juga menceritakan bahwa Festival Film Purbalingga (FFP) ditawari oleh dinas kebudayaan untuk diadakan selevel Internasional. Sayangnya, Purbalingga tidak ada gedung kesenian dan bandar udara baru akan dibangun. Sehingga, itu menjadi kendala yang memungkinkan FFP belum bisa diadakan selevel internasional.
Dari Gerakan Mahasiswa Purbalingga (Gemalingga), Kak Dimas Agung yang menjadi juru bicara menyoroti soal pelayanan pada penyandang difabel. Yang mana belakangan banyak keluhan yang disampaikan di sosial media mengenai kecelakaan seperti terpeleset karena trotoar yang licin dan material yang berantakan. Tidak hanya memaparkan, kak Dimas juga memberi gambaran pembuatan trotoar khusus penyandang difabel yang sudah dicetak. Ia juga memaparkan mengenai pembangunan alun-alun Purbalingga yang acap kali berubah konsep itu lebih baik diadakan sayembara. Seperti pembangunan Monas, Masjid Istiqlal dan yang lainnya.
Hanya beberapa pemaparan yang saya dapatkan. Sebab, bapak Bupati ijin undur diri selepas menjawab pemaparan dari kak Dimas. Selebihnya, faktor saya yang sudah merasa ngantuk akut. Sengaja tidak saya tulis jawaban bapak Bupati di sini. Biar kalian menjawab sendiri dan melatih diri sebagai pemimpin untuk Purbalingga (re: tidak terekam di ponsel sendiri sebab melebihi pukul sepuluh malam jadwalnya mati). HEHE.


Catatan: Gambar Bapak Tasdi saat sambutan itu hasil tangan dari seniman yang tidak ingin disebutkan namanya. Tadinya sudah dikirim nama pena-nya, lalu ditarik kembali. Katanya, “seniman tidak perlu dikenal”.

0 komentar