PLTPB: Alam yang dipertaruhkan

Aku acap kali ketinggalan acara Mata Najwa di Metro TV, makanya aku suka sekali mengoleksi videonya. Meski, selepas aku nonton, besar kemungkinan untukku lekas lupa. Anehnya, ketika tamunya Pak Ganjar Pranowo, aku masih ingat betul mengenai pernyataan beliau mengenai hobinya semasa menjadi mahasiswa.

Pastinya kalian tahu apa hobinya. Yups, benar, Pak Ganjar suka demo. Menurutku ini menarik. Dan pernyataan Pak Ganjar begitu mendoktrin di kepalaku, hingga aku punya motivasi besar untuk menjadi mahasiswa agar bisa menyaksikan langsung para demonstran berorasi. Karena yang identik suka demo itu mahasiswa. Segelintir kawanku tahu mengenai hal ini dan mereka tertawa. Aku suka melihat mereka tertawa, sebab di matanya ada cinta. *Assek

Pekan lalu, tepatnya tanggal 10 Oktober 2017 aku ikut aksi solidaritas untuk mengecam tindakan repsesif oknum aparat keamanan Banyumas. Aksi itu menindaklanjuti dari tragedi 9 Oktober 2017 – sehari sebelumnya. Soal apa? Soal tolak Pembangunan Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di lereng Gunung Slamet. Penolakan itu memunculkan Aliansi Selamatkan Slamet dari elemen masyarakat sampai elemen mahasiswa. Yang mana mereka berinisiatif untuk menuntut hak-haknya, yang terjadi pada tanggal 9 Oktober lalu.

Aksi Solidaritas Tolak PLTPB [Foto: Dok. Pri]
Mahasiswa se-Banyumas turun ke jalan dan menggemakan lagu Darah Juang.  Dengan mengepalkan tangan mereka membulatkan tekad. Menurutku, ini salah satu pengabdian mereka terhadap masyarakat. Seperti kata narasumberku tempo lalu, bahwa mahasiswa itu bukan hanya mengurusi kampusnya saja, tapi juga ikut andil dalam sosial masyarakat.

Sebelumnya, aku hanya tahu kabarnya tapi tidak paham betul mengenai akar permasalahannya. Belakangan, aku mulai paham kenapa PLTPB itu ditentang habis-habisan. Dilansir dari masyarakat sekitar lereng Gunung Slamet, beberapa darinya ada yang sampai seminggu menggunakan air galon karena air di sekitar lereng sangat keruh, kemudian binatang-binatang seperti babi juga sudah mulai turun.

Padahal, tanpa adanya PLTPB yang digawangi PT Sae itu, lereng Gunung Slamet sudah berbahaya. Yang begitu mencengangkan lagi, keuntungan 70% dari pembangunan itu bakal dinikmati oleh Jerman.

Sayangnya, penuntutan itu berujung ricuh. Yang mana oknum aparat keamanan Banyumas melakukan tindakan represif kepada massa aksi. Tidak hanya tindakan represif, ada pula 27 massa aksi yang ditahan. Parahnya lagi, oknum aparat keamanan Banyumas ada yang salah tangkap. Lalu, tindakan represif itu juga mengenai wartawan Metro Tv bagian wilayah Banyumas serta wartawan Pro Justicia FH Unsoed. Ada pula yang dipaksa untuk menghapus rekaman kejadian. Tindakan ini malah makin melebar dan menimbulkan kecaman dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Purwokerto.

Aliansi Selamatkan Slamet juga menggandeng Lembaga Badan Hukum (LBH) Jogjakarta. Beliau pun sangat menyayangkan, betapa Negara yang menjunjung tinggi demokrasi malah kebebasan bersuara dibatasi. Banyumas sangat darurat demokrasi, katanya disela-sela orasi.

Kejadian ini mengingatkan kembali pada sejarah – tragedi Mei 1998. Elemen masyarakat dan mahasiswa yang telah berhasil melengserkan Soeharto. Aliansi Selamatkan Slamet terdiri dari elemen masyarakat dan mahasiswa. JaS MeRah. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Ini bukan soal perkara gagal move on atau sengaja bertahan dalam duka. Hanya saja, dari sejarah bisa disadur cara bagaimana (pemimpin) lebih berhati-hati.

Motivasi terbesar menjadi seorang mahasiswa telah kulaksanakan. Aku jadi tahu mekanisme demo itu seperti apa. Aku jadi melihat langsung mahasiswa berorasi menuntut hak-hak sosial masyarakat itu nampak bagaimana. Aku jadi melihat langsung mata oknum aparat keamanan yang meledek sinis dari atas sampai bawah mahasiswa yang tengah berorasi itu seperti apa.


Lalu, dikabarkan tadi  malam,  sungai di area Gunung Slamet meluap. Beberapa kendaraan hanyut. Media sosial banyak yang mengabarkan ini  dan mengaitkannya dengan PLTPB yang sejak beberapa  hari belakangan santer dibicarakan. Ternyata, di sini bukan hanya soal nyawa yang dipertaruhkan,  tetapi alam pun juga.

0 komentar