Hepenk Lamtana
– Pentolan ikatan komunitas yang ada di fakultas ini sengaja kukejar jadi narasumber untuk ngobrol mengenai:
“Mahasiswa dan Sastra”. Sebenarnya, ini bukan sekadar ngobrol yang jadi bagian
dari sebuah keformalitasan guna menyelesaikan tugas dari sebuah komunitas. Aku ingin
tahu konsep apa yang merasuk pada orang gila yang satu ini. Ndilalah, orang gila yang satu ini
memang jarang sekali nongol di kampus, giliran nongol ngajaknya ke kantin dan
ngopi. Untuk menghindari kopi, aku dan kawanku mesti menyambanginya ke basecamp – sarangnya orang-orang gila.
Lalu, tulisan ini
muncul ketika aku merasa gagal untuk mengaplikasikan hasilnya menjadi sebuah
tugas (yang dimaksud). Kalian mesti baca kegagalanku dengan rinci. Jangan
terlewatkan meski satu spasi. Siapa Hepenk Lamtana? Orang gila yang menggilai
soal sosial. Pergerakannya tak jauh-jauh dari seni. Pemberontakannya diutarakan
melalui puisi. “Menulis adalah keberanian karena banyak sejarah yang sengaja
disembunyikan”, tulisnya waktu itu.
Barangkali,
lantaran menurutnya menulis itu soal keberanian dan banyak hal yang
disembunyikan. Ia menjelma menjadi seorang yang suka memberontak dan tak suka
bersembunyi. Seperti pengakuannya
mengenai fenomena pengakurasian puisi di kampus, ia menentang habis-habisan
fenomena itu. Ia melawannya dengan membuat dan menyebar antalogi “Puisi Tanpa Akurasi”. Ia mendatangi
setiap kelas-kelas dan membaca puisinya. Sampai suaranya terdengar ke semua
telinga yang ditujunya. Ia mempunyai konsep ekstrim dari sebuah sastra. Bahwa: Sastra itu tidak bertuhan. Sekalipun sastra
jadi media mendekatkan diri kepada-Nya.
Tak ada potret
yang kuambil untuk kalian bisa mengetahui jelas penampakannya. Tetapi bisa
kujabarkan sedikit mengenai hal yang tampak darinya. Jika dibandingkan dengan
penampilan mahasiswa yang normal, ia seorang mahasiswa dengan cover urakan. Di mana rambutnya agak
panjang – kadang diikat kadang terurai,
berwarna merah di ujung, serta sukar ditemukan ia menggunakan pakaian formal.
Tapi, kegilaannya tertata dengan rapi. Ia paham betul orang gila yang mestinya
ada itu yang bagaimana. Yang harus muncul di permukaan dan merombak ruang
bersekat di kampus yang ditata rapi itu yang seperti apa.
Ketika sengaja
singgah di basecamp orang-orang gila,
apa yang bersemayam di kepala? Pasti segala yang berantakan muncul di sana.
Sayangnya, aku tidak melihat berantakan seperti apa yang kupikirkan sebelumnya.
Ketika mereka makan di atas kertas dengan lauk sayur kangkung, tempe, dan
kerupuk. Yang seluruhnya memutar dan tak
ada yang ketinggalan. Aku ingin ngomong: edan,
cuk. Orang-orang gila yang sederhana.
Lantaran tidak ada
prodi yang fokus dengan bahasa dan sastra di kampus. Aku menanyakan soal apakah
mahasiswanya sudah melek sastra atau belum. Lalu Hepenk mempunyai sudut pandang
yang berbeda, di mana ia mengatakan mahasiswa itu belum melek sastra secara
keseluruhan. Sastra yang identik dengan puisi yang katanya seperti jendela yang
sempit tapi luas maknanya, dengan adanya fenomena yang kujelaskan di awal, ini
menambah kerikil-kerikil tajam soal pemahaman sastra. Pendidik yang fokus di
bidang bahasa itu mengenalkan sastra dengan sistem pengakurasian yang
membingungkan bagi orang awam.
Sebab sastra bagi
orang awam itu mempunyai image pusing.
Ditambah dengan sistem pengakurasian yang ada, membuat mahasiswa yang sangat
awam dengan sastra itu melakukannya karena soal nilai dan formalitas belaka. Bahkan
menimbulkan peristiwa yang miris, seperti: tragedi copy-paste tanpa nama, permintaan pembuatan karya pada orang lain,
dan penghilangan keorisinilan sebuah karya. Katanya lagi, pendekatan yang
dilakukan mengenai sastra itu kurang mesra. Harusnya, sebuah karya sastra
dibiarkan jujur tanpa ada sistem pengakurasian.
Di obrolan ini.
Aku memang memposisikan diri sebagai penanya – lebih banyak mendengar. Aku
mendengar lagi pernyataan orang gila bernama Hepenk ini dari sebuah
tanyaku apakah penting sastra untuk mahasiswa. Katanya, sastra berperan penting
bagi mahasiswa, yang mana mahasiswa itu fase dimana ia harus lebih mengenal apa
yang belum mengenal, memikirkan apa yang belum dipikirkan, menulis apa yang
belum pernah di tulis. Sastra di sini merasuk pada setiap fase.
Lebih
baik tetap menulis tapi di penjara atau bebas tapi bersekat? Jawaban Hepenk tidak secara to the point, ia menjabarkan terlebih
dahulu ketika tanya itu kulayangkan padanya. Katanya, butuh orang gila untuk
membedah pertanyaan ini. Dan di kampus butuh orang gila. Orang gila yang seperti
apa? Orang gila yang dimaksud di sini orang yang memahami situasi, jeli, dan
berani. Dimana ia akan merasa resah dengan situasi yang ada lalu mengambil
keputusan dan tidak takut dengan konsekuensi. Minimal ada segelintir orang
gila dari per angkatan yang paham betul keadaan di kampus.
Final dari obrolan
ini, ketika aku lagi-lagi melayangkan tanya, yang diakhiri soal mahasiswa yang
harusnya itu bermuara ke mana? Ia menjawab bahwa mahasiswa harusnya bermuara ke
dirinya sendiri. Betapa banyak dari mereka yang melupakan hakekat dari
mahasiswa. Di mana melupakan proses pembelajaran yang ada di dalamnya. Katanya
lagi, bahwa mahasiswa sekarang ini digadang-gadang menjadi mahasiswa cetakan
sabun. Yang mana diciptakan untuk bekerja dan bukan membuka lapangan pekerjaan.
3 komentar
Hepenk lamtana adalah sang surya yang bersinar tanpa menoleh keseluruhan yang tersinari. Eh hampir curhat ups. Dikampus memang membutuhkan orang2 seperti, kae. Coba saja dibayangkan sejenak jika seorang mahasiswa yang berjuang, memanjangkan nama gelar misalnya. selalu menuruti alur cerita menjadi seorang mahasiswa tanpa pendirian. Apakah ada hakikat seorang mahasiswa harus formal-formal saja dikampus? jika tidak? atau jika iya? lalu proses pembentukan jati diri yang seperti apalagi sehingga tidak membuat Dosen marah?
BalasHapusmantul
BalasHapusUwuwuwuwu mantap jiwaaaa
BalasHapus