Perihal Kita Dengan Tuhan

Oleh : Umi Uswatun Hasanah

Untukmu yang sampai kini mengetahui sebagian isi hatiku perihal di mana kau menempati bagian hatiku..

Perihal kita; kau mengungkapkan rasa dan aku sepakat dengan itu.

Tidak ada ikatan sampai saat ini, hanya janji tuk memantaskan diri sampai waktu mengatakan sudah saatnya. Tidak aku pungkiri bahwa aku berharap, berharap kau tidak melupa pada janji yang dikirim melalui pesan singkat.

Orang dewasa tertawa. Lalu, kita yang beranjak dewasa bisa apa? Anugerah Tuhan tidak bisa ditolak. Kita hanya butuh menyiapkan amunisi saat ini. Tetap teguh dengan apa yang kita ingini di akhir nanti. Tanpa ikatan saat ini.

Jarak. Amunisi kita perbanyak kembali. Bersikap elegan dengan membawa Tuhan pada kisah ini. Tak perlu banyak laporan bahwa hari ini sudah mendoakan. Percayakan pada Tuhan bila doa-doa kita sampai pada tempatnya. Amunisi terbesar – doa.  

Rindu. Ah, aku masih belum sempat menambahkan amunisi tuk menangkal itu. Entah belum sempat atau tidak menyempatkan diri. Yang kutahu amunisiku belum canggih tuk menangkal rindu.

Sebenarnya tidak jua ingin bersua. Hanya saja mengingat kita begitu merindukan. Saat duduk berderet dalam satu bangku, bercerita perihal tujuan yang semoga begitu melegakan hati suatu nanti.

Aku tidak menyodorkan kebahagian, tidak jua menyodorkan rasa lara. Berjuang dengan elegan tanpa basa-basi yang nantinya menjadi basi. Aku begitu idealis mengenai hal ini, seperti kata kita, kita bukan anak kecil jua bukan orang dewasa. Kita hanya tengah belajar berjuang. Menjaga sampai apa yang kita ingini tercapai.


Aku pengikut kata kita. Menjaga kata kita. Tiada sama sekali merusak kata kita. Idelis perlu, sebab realistis kita sudah menjadi semu. Seperti kata kita. Mimpi perlu, tiada sama sekali ilusi pada kisah kita. 

Purbalingga, 9 Agustus 2016.

0 komentar