Membalas Tulisan Bang Yudha, Kutu Rambut: Bukan Masalah Perempuan, Tetapi Masalah Kolektif Tuan dan Puan


Sumber ilustrasi pulsk.com

Pertengahan Maret lalu, Rektor IAIN Purwokerto Moh. Roqib memutuskan agar kuliah tatap muka diganti dengan kuliah daring. Berdasarkan Surat Edaran No. 002 Tahun 2020, kuliah daring dijadwalkan sampai akhir Maret. Semua mahasiswa memaklumi kebijakan tersebut, lantaran Covid-19 memang tidak pandang bulu. Sebab, beberapa pekan lalu juga dikabarkan pejabat daerah positive Covid-19. Artinya, Covid-19 memang menyerang semua lapisan yang konon tidak menjaga kesehatan atau tertular dari pasien lain. Pokoknya tidak pandang bulu!

Namun, Covid-19 nampaknya masih betah mencari mangsa meski sudah dimaki-maki seluruh dunia. Akhirnya, Rektor kembali membuat surat edaran yang isinya kuliah daring diperpanjang sampai akhir semester genap. Saya ulangi sekali lagi, “Akhir semester genap!” Bayangkan, betapa gabutnya seluruh mahasiswa IAIN Purwokerto saat ini.

Nampaknya, ketimbang mengikuti pernyataan Fadjroel Rachman yang membuat bingung setengah mati, banyak mahasiswa yang menjelma jadi pembaca karakter paling ulung. O, pasti ini tidak gratis. Kalian harus menangkap ayam, supermen, atau bahkan menjawab teka-teki yang jawabannya nggateli. Baru kemudian foto kalian bisa dipajang dengan deskripsi yang aduhai. Meski begitu, beberapa mahasiswa lain juga ada yang mengisi momen jeda kuliah daring dengan menulis. Salah satunya Kakanda Yudha Pratama, yang akrab disapa Bang Yudha.

Banyak tulisan Bang Yudha di blog pribadinya yang menggelitik dan asik. Ia seringkali membungkus kemiskinan dengan riang. Konon, ia terinspirasi dari Redaktur Mojok.co. Yaps, betul, siapa lagi kalau bukan Agus Mulyadi alias Gus Mul. Kemarin, ia baru saja memposting tulisannya yang bertajuk "Cara Bapak Menikmati Kesederhanaan". Dan betapa bangganya ia, karena cuitannya di twitter di-retweet oleh Gus Mul. Tulisan itu memang saya akui sangat menarik. Lantaran mengandung plot twist yang asik.

Dulu, saat Bang Yudha nyalon jadi Presiden Mahasiswa (Presma) di fakultasnya, ia menggandeng perempuan untuk menjadi wakilnya. Sebelumnya, ia juga berinisiatif membentuk Kementerian Perempuan yang khusus mengatasi masalah perempuan. Meski kementerian tersebut baru terealisasi tahun ini. Jadi, bisa sedikit disimpulkan bahwa Bang Yudha konsen terhadap kemerdekaan perempuan di ruang publik.

Sayangnya, dalam tulisan bertajuk “Transformasi Kebudayaan Perempuan Jawa: Dari Petan hingga Berburu Uban”, Bang Yudha melakukan kesalahan yang menurut saya cukup fatal. Secara tendensius, ia sebut masalah tuma adalah masalah perempuan khususnya gadis yang perawan. Padahal tidak, tuma adalah masalah kolektif antara laki-laki dan perempuan! Sama halnya dengan Covid-19. Bedanya, Covid-19 belum ditemukan vaksin sedangkan tuma bisa dibasmi dengan minyak kelapa.

Selanjutnya, Bang Yudha juga menulis bahwa hal itu sangat menggangu para perempuan yang sedang gacor-gacornya mendekati laki-laki tampan dan mapan. Padahal, di kepala laki-laki ada juga yang bersarang tuma. Di sini, Bang Yudha membuat perempuan seolah-olah manusia yang tidak menjaga kebersihan. Padahal, perempuan sudah mengalami domestikasi akibat konstruksi sosial. Ia mengemban tugas ganda: urusan dapur dan bekerja. Kasihan betul nasib kami, masih dibebani tugas ganda, tetap saja dituduh tidak menjaga kebersihan.

Terlepas dari kecerobohan Bang Yudha yang sangat fatal, saya tetap mengakui adanya tradisi petan. Tetapi, saya tidak sepakat dengan narasi awal yang Bang Yudha buat. Sangat menjengkelkan! Saya curiga, jangan-jangan Bang Yudha tidak betul-betul konsen dengan kemerdekaan perempuan di ruang publik. Sebab, nampaknya ini hanya strategi agar ia bisa gonta-ganti tambatan hati. Bajilak benar memang Kakanda satu ini!

Sekali lagi, saya tegaskan bahwa kutu rambut alias tuma bukan hanya masalah perempuan. Tetapi,  masalah kolektif tuan dan puan. Jadi, marilah kita basmi tuma-tuma yang bersarang di kepala. Tanpa mengotak-kotakan jenis kelamin yang mereka punya. Sebab, meski fall in love with people we can’t have, perasaan musti tetap diperjuangkan. Aww… malu banget.  


0 komentar